LPM AL-ITQAN — Rangkaian Wisuda Angkatan XIII UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Kamis (17/9/2026), tidak hanya menjadi momentum pengukuhan lulusan. Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Dr. Wedra Aprison, M.Ag. mengajak para wisudawan melihat perkembangan sains dan agama sebagai dua hal yang dapat berjalan beriringan.
Orasi ilmiah yang mengangkat tema “Mendamaikan Sains dan Agama untuk Kemajuan Pendidikan Islam” tersebut membahas hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama, termasuk tantangan yang muncul ketika keduanya dipandang sebagai dua hal yang bertentangan.
Salah satu contoh yang disampaikan ialah pengalaman masyarakat selama pandemi COVID-19. Pada masa tersebut, pendekatan sains mendorong pembatasan interaksi untuk mengurangi penyebaran penyakit, sementara umat Islam tetap memiliki kebutuhan untuk menjalankan ibadah secara berjamaah.
“Kasus penciptaan alam, penciptaan manusia, dan terakhir kasus COVID-19 memberi kesan yang sangat jelas kepada kita persaingan antara sains dan agama itu,” ujar Wedra dalam orasinya.
Dari persoalan tersebut, gagasan mendamaikan sains dan agama menjadi salah satu pokok pembahasan dalam orasi. Agama, menurutnya, tidak harus ditempatkan berlawanan dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, nilai-nilai agama dapat menjadi landasan dalam pemanfaatan dan pengembangan ilmu.
Dalam pembahasan mengenai Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan, Wedra juga merujuk pada pemikiran M. Quraish Shihab. Al-Qur'an dipandang bukan sebagai pengganti ilmu pengetahuan, tetapi memiliki peran sebagai landasan etis sekaligus pendorong manusia untuk terus mencari dan mengembangkan ilmu.
“Al-Qur'an adalah basis etis atau pendorong pengembangan ilmu pengetahuan,” katanya.
Pembahasan tersebut kemudian dikaitkan dengan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Menurut Wedra, lembaga pendidikan Islam telah melalui perjalanan panjang untuk memperoleh pengakuan dan kedudukan yang setara dengan lembaga pendidikan umum.
Ia juga menceritakan pengalamannya ketika menempuh pendidikan di Thawalib Padang Panjang. Pada 1993, ia mengatakan bahwa lulusan pesantren masih harus mengikuti ujian persamaan apabila ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.
Wedra kemudian melihat adanya perubahan dalam perkembangan pendidikan Islam. Ia mengatakan masyarakat saat ini semakin menginginkan pendidikan yang mampu menggabungkan penguasaan sains dan teknologi dengan pembinaan keagamaan.
Hal tersebut, menurutnya, terlihat dari perkembangan MAN Insan Cendekia dan sejumlah sekolah berasrama yang mulai mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan kegiatan keagamaan. Kegiatan seperti salat berjamaah, tahajud, kultum, dan tahfiz disebut menjadi bagian dari sistem pendidikan di sejumlah lembaga tersebut.
“Intinya adalah umat Islam atau masyarakat Islam ingin sekali anaknya menguasai sains dan teknologi, namun dengan tidak meninggalkan agamanya,” jelasnya.
Bagi para lulusan UIN Bukittinggi, pesan tersebut tidak berhenti pada persoalan pendidikan. Setelah memperoleh gelar akademik, mereka diharapkan mampu menggunakan ilmu yang dimiliki dalam kehidupan masyarakat.
Di hadapan para wisudawan, Wedra juga berpesan agar lulusan tidak takut menghadapi persaingan setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.
“Busungkan dadamu, tegakkan bahumu, tatap masa depan dan mari bersaing secara sehat,” pesannya.
Ia mendorong para lulusan untuk menguasai sains dan teknologi sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman. Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan perlu berjalan bersama nilai-nilai agama agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Orasi ilmiah tersebut kemudian ditutup dengan harapan agar para lulusan mampu membawa kemajuan sains dan teknologi yang tetap dibimbing oleh nilai-nilai agama.
Penulis: Fadila Yulianna Siregar

