Foto: Ilustrasi/AI
Katanya, bumi indah dengan permadani alamnya
Laut megah dengan karangnya
Hutan rimba menawan dengan hijau dan kesunyiannya
Sungai dan danau syahdu dengan riak dan ketenangannya
Gunung kokoh menantang mega
Dan manusia indah dengan akal budinya.
Namun dusta, itu hanya katanya
Bukan realita yang tersisa.
Pesona itu lenyap dalam sekejap mata
Tenggelam bersama akal yang telah buta.
Bumi dikeruk tak tersisa
Laut dirampas segala isinya
Gunung dinodai keindahannya
Sungai dan danau dicemari airnya
Hutan digunduli hingga ke akar-akarnya
Semesta, lukamu kini begitu menganga
Dengan apa aku harus membalutnya?
Bukankah dahulu engkau cermin surga?
Tempat tanah, air, dan udara menghidupi nyawa.
Lantas, mengapa hanya ada nestapa?
Dirampas oleh jiwa-jiwa yang silau fatamorgana.
Kepada siapa rintihanmu ku adukan?
Dengan cara apa jemariku mampu memulihkan?
Dan kapankah sayatanmu sirna, wahai Semestaku yang dirundung duka?
Penulis: Siti Aisyah

