LPM AL-ITQAN — Menyeimbangkan antara tuntutan akademik dan organisasi bukanlah hal yang mudah. Namun hal itu tidak berlaku bagi Iqbal, seorang wisudawan dari Program Studi Akidah dan Filsafat Islam yang berasal dari Taeh Baruah, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima puluh kota, dirinya turut sukses dalam pencapaian akademik dan berbagai organisasi kampus.
Iqbal Rizkyka, S. Ag. itu memulai masa perkuliahannya pada tahun 2022 sebagai mahasiswa baru prodi tersebut. Selama perkuliahan, ia tidak hanya aktif di ruang kelas, ia juga aktif mengemban amanah organisasi mulai dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Akidah dan Filsafat Islam, Ketua Komisi C SEMA-U pada tahun 2024, hingga puncaknya menjabat sebagai Ketua Umum UKK LPM Al-itqan UIN Bukittinggi pada tahun 2025.
Pria kelahiran Batam itu, di samping kesibukan organisasi dan akademiknya, Iqbal juga aktif terlibat dalam proyek-proyek riset bersama dosen hingga terpilih mengikuti KKN Nusantara dengan tema "Moderasi Beragam" tingkat Nasional di Yogyakarta.
Bagi Iqbal, keterlibatannya dalam banyak hal tidaklah serta merta tanpa tujuan, melainkan didasari kesadaran bahwa ilmu dan pembelajaran di dalam kelas saja tidak cukup.
"Materi perkuliahan itu sifatnya formalitas, praktiknya lebih banyak kita dapatkan di organisasi. Di sanalah kita dibentuk untuk lebih kritis, adaptif, dan mengasah skill nyata seperti media, penulisan, hingga teknik wawancara," ungkapnya.
Menurutnya, mengatur waktu bukanlah tentang membagi jam secara kaku, melainkan menyusun skala prioritas,
"waktu untuk kuliah dan organisasi itu sebenarnya bisa dibagi. Karena secara kuantitatif kita hanya ada 24 SKS maksimal dikali 2 jam, hanya memakan waktu sekitar 48 jam dalam seminggu. 48 jam, sedangkan kita ada 7 hari," jelasnya.
"Jadi sebenarnya yang perlu itu membuat skala prioritas dan kita yang diamanahi sebagai ketua, memang itulah yang harusnya prioritas. Saat kawan-kawan kita membutuhkan kita, kita juga yang paling dulu datang", tambahnya.
Pengalaman berkesan dalam organisasi pun terukir saat ia dan tim menerbitkan majalah cetak perdana di LPM Al-itqan UIN Bukittinggi yang sedikit mengalami kesulitan dalam melakukannya bersama tim. Namun hal itu terlewati dan menjadi sebuah kebahagiaan tersebut bagi Iqbal dan tim. Hingga pengalaman KKN Nasional yang mengajarkannya adaptasi budaya, bahasa, serta kesederhanaan hidup masyarakat lokal di Yogyakarta, Jawa Tengah.
Dalam menjalani bangku perkuliahan, sebuah musibah turut mendekatinya, ia mengalami kecelakaan dan menyebabkan patah pada kakinya. Kecelakaan ini membuatnya tidak bisa melanjutkan perkuliahan selama satu semester. Ditengah musibah dan keadaan demikian, membuat pribadi Iqbal menjadi sosok lebih baik dalam memandang kehidupan kedepannya. Dengan kesadaran penuh, Iqbal mengatakan bahwa "sebagai manusia normal, rasa capek, lelah dan mengeluh itu pasti ada dan itu manusiawi. Tapi bagaimana sikap kita dalam menghadapi setiap cobaan itu, mau tetap seperti itu-itu saja atau mau berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya", pungkas Iqbal.
Menutup perbincangan usai prosesi wisuda, Iqbal menegaskan bahwa gelar sarjana bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Menurutnya, kepemimpinan adalah soal amanah dan tanggung jawab yang bermuara pada pengembangan diri.
"Gelar sarjana tidak boleh berhenti di menara gading atau riset di atas kertas saja. Ilmu yang didapat harus ditransmisikan dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan masyarakat. Mendapat gelar bukan berarti berhenti belajar, melainkan mulai belajar kembali saat turun langsung ke masyarakat," pungkasnya.
Penulis: Siti Aisyah

.jpg)