LPM AL-ITQAN—Peringatan Hari Harimau Sedunia (World Tiger Day) yang jatuh setiap tanggal 29 Juli ini lahir dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Harimau Saint Petersburg di Rusia pada tahun 2010. Saat itu 13 negara wilayah sebaran harimau dalam pertemuan puncak di Rusia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global tentang pentingnya konservasi harimau serta perlindungan habitatnya yang terancam punah.
Alasannya, karena ada ancaman kepunahan pada populasi harimau sempat menyusut tajam hingga titik terendah sekitar 3200 ekor pada tahun 2010. Fungsi ekologis ini menjaga kelestarian harimau berarti melindungi hutan dan ekosistem di dalamnya sebagai rumah bagi banyak satwa lain.
Terkait peringatan hari tersebut berbagai poster, kampanye dan juga acara edukasi itu membuat orang-orang tertarik, yang bikin tertarik adalah lomba mewarnai khususnya bagi anak-anak. Terkait dalam rangka tersebut di event tersebut mengajak anak-anak, remaja dan hingga dewasa untuk belajar melestarikan alam, menjaga dan melindungi harimau agar tidak punah.
Kondisi pada habitat dan Data FHK
Khususnya Harimau Sumatera di negeri kita sedang menghadapi bahaya besar namun berstatus kritis. Perburuan liar ini masih terjadi yang merupakan predator puncak dan identitas budaya yang sangat penting, namun kini keberadaannya di ambang kepunahan akibat ulah manusia. Meskipun belum punah, harimau sumatera ini statusnya sangat kritis dan terancam punah. Populasinya diperkirakan tersisa kurang dari 600 ekor.
Berdasarkan data Forum Harimau Kita (FHK), populasi liar Harimau Sumatera saat ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 568 individu. Tersebar dalam 23 lanskap habitat dengan luas sekitar 9 juta hektar, sementara luas total Pulau Sumatera sekitar 47 juta hektar.
Lanskap habitat ini sudah mengalami penurunan dalam 10 tahun terakhir, awalnya ada 29 lanskap. Ancaman terbesar kehidupan harimau adalah deforestasi habitat, perburuan, serta konflik manusia dengan harimau.
Menurutnya adanya sub-sub populasi harimau sumatera yang berada di luar kawasan konservasi, menjadi alarm untuk segera menerapkan konsep pengelolaan lanskap.
Saat ini, menurutnya, banyak habitat terkotak-kotak, sementara harimau hidup dengan tidak mengenal batas wilayah. Namun, masih banyak otoritas yang tidak menyadari pentingnya pengelolaan berkonsep lanskap ini -setiap petak habitat harus terhubung satu sama lain.
Bukti Ilmiah Pemantauan dan Tantangan Konservasi
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko menyampaikan bahwa hasil pemantauan ini menunjukkan pentingnya pengelolaan kawasan konservasi dan hutan penyangga secara berkelanjutan melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, mitra konservasi, dan para pemangku kepentingan.
Pemantauan dilakukan melalui jaringan kamera jebak yang dipasang secara sistematis oleh tim lapangan Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II, Taman Nasional Kerinci Seblat bersama Yayasan Konservasi Hutan Harimau di bentang alam Kerinci Seblat. Identifikasi individu dilakukan berdasarkan pola loreng yang unik pada setiap harimau sehingga memungkinkan peneliti memastikan bahwa individu yang terekam pada tahun 2026 merupakan anak harimau yang sama dengan yang terdokumentasi pada September 2025.
Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan pentingnya kegiatan monitoring jangka panjang sebagai dasar ilmiah dalam mengevaluasi kondisi populasi Harimau Sumatra. Data kamera jebak tidak hanya memberikan informasi mengenai jumlah individu, tetapi juga keberhasilan reproduksi, tingkat kelangsungan hidup anak, serta dinamika populasi di habitat alaminya.
Meskipun demikian, Harimau Sumatra masih menghadapi berbagai ancaman, seperti perburuan liar, jerat satwa, degradasi habitat, serta konflik antara manusia dan satwa liar. Oleh karena itu, Kementerian Kehutanan terus memperkuat strategi konservasi melalui peningkatan patroli pengamanan kawasan, penegakan hukum terhadap kejahatan tumbuhan dan satwa liar, pemantauan populasi berbasis sains, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Keberhasilan pemantauan ini juga tidak terlepas dari kontribusi berbagai pihak yang secara konsisten mendukung perlindungan Harimau Sumatra beserta habitatnya. Kementerian Kehutanan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga kelestarian hutan sebagai rumah bagi Harimau Sumatra dan berbagai satwa endemik Indonesia. Kelangsungan hidup generasi baru Harimau Sumatra merupakan tanggung jawab bersama sekaligus menjadi cerminan keberhasilan Indonesia dalam menjaga kekayaan keanekaragaman hayati nasional.
Aksi Nyata Untuk Masa Depan
Kita belajar dari sejarah. Indonesia sendiri selain Harimau Sumatera, ada harimau yang sudah punah seperti Harimau Jawa dan Harimau Bali. Kita tidak boleh membiarkan Harimau Sumatera menyusul dengan nasib tragis yang sama.
Oleh karena itu, mari kita ajak seluruh masyarakat Indonesia untuk melestarikan harimau agar tidak punah seperti melindungi habitat aslinya di hutan, menghentikan perburuan liar, serta mencegah dan mengatasi konflik antara manusia dan satwa.
Penulis: Salsabila Salwa
Foto: Kompas.id
