Dahulu, tanganku hanyalah jemari kecil
Yang bersembunyi di balik lipatan kainmu.
Kau adalah rumah, sebelum aku mengenal pintu,
Kau adalah arah,
Sebelum aku mengenal rindu.
Ibu…
Kulihat fajar mulai menetap di rambutmu,
Memutih, seiring doa-doa yang kau minta tanpa jemu.
Kulitmu kini berkisah tentang ribuan lelah,
Tentang perut yang kau tahan lapar,
Hanya agar piringku tak pernah tawa dengan gundah.
Maafkan aku, Ibu…
Seringkali aku menjadi badai di tenangnya telagamu.
Aku mengejar dunia hingga lupa jalan pulang,
Sementara kau setia menunggu di ambang petang,
Dengan punggung yang kian membungkuk dimakan waktu.
Jika kelak suaramu mengecil ditelan sunyi,
Dan langkahmu tak lagi sanggup mengejar mimpi,
Izinkan aku menjadi tongkat bagi rapuhmu,
Izinkan aku menjadi napas bagi sisa hidupmu
Sebab surga bukan hanya di telapak kakimu,
Tapi di setiap tetes air mata yang jatuh dalam sujudmu,
Hanya untuk menyebut namaku.
Penulis: Syifa Aliya Zahra
