Suara sirine ambulans itu memecah sunyi nya malam. Panjang, lirih, dan menekan dada. Mobil itu melaju membawa jenazah umi menuju rumah. Aku duduk terdiam, menatap kosong ke depan, sementara pikiranku terus berputar pada kejadian di hari yang sama, hari yang tak akan pernah bisa kulupakan.
Pagi itu, umi masih terbaring di ruang perawatan rumah sakit. Selang oksigen terpasang di hidungnya, dan infus menggantung di sisi ranjang. Aku duduk di sampingnya, menggenggam tangannya, berharap semuanya akan baik-baik saja.
Hari itu hari Jumat.
Setelah waktu sholat Jumat selesai, aku harus kembali ke kampus karena ada mata kuliah.
Langkahku berat saat mendekati umi. Dengan suara bergetar dan menahan air mata, aku berkata pelan,
“Umi… kakak pergi kuliah dulu ya.”
Di balik selang oksigen yang menutupi hidungnya, umi hanya mengangguk pelan karena tubuh umi yang masih lemah. Aku pun pergi, meninggalkan umi di ranjang rumah sakit dengan perasaan yang tidak tenang.
Perkuliahan baru berjalan beberapa saat ketika ponselku berdering. Nomor saudaraku yang ada di rumah sakit , aku mendengar suara tangisan dan membuat dadaku sesak. Aku diminta segera datang ke rumah sakit.
Aku berlari, nafasku terengah, langkahku tidak beraturan. Begitu sampai, aku langsung menuju ruangan umi.
Namun kali ini, yang kulihat bukan lagi umi dengan oksigen dan infus. Umi sudah terbaring diam, seluruh tubuhnya diselimuti kain panjang.
Tubuhku seketika kehilangan tenaga. Kakiku tidak sanggup menopang ku. Aku terjatuh, dan air mataku pecah bersama teriakan yang keluar dari dadaku,
“Ummiiii…”
Kini, di dalam ambulans yang melaju kencang itu, suara sirine kembali terdengar. Mengiringi perjalanan umi menuju rumah, perjalanan terakhirnya. Dan di hari yang sama itu juga, aku menyadari bahwa izin kecil yang ku ucapkan pagi tadi adalah izin terakhir yang pernah ku ucapkan kepada umi.
Penulis: Irma Zakya
