Di tengah hiruk pikuk pasar, terdapat seorang tua yang duduk termenung melihat manusia silih berganti, berjalan, singgah, menawar dan belanja. Pasar ini dikenal dengan pasar Sabtu, ya disebabkan pasarnya ini pada hari Sabtu, sebuah penamaan yang simpel dan menggambarkan cara manusia untuk mengenal dan menamai sesuatu. Seorang tua ini dikenal dengan Nan Tuo bagi masyarakat sekitar, bukan karena yang paling tua di desa tersebut, tetapi secara umur memang udah mirip dengan tanah kulitnya. Selain itu posisinya sebagai orang yang dituakan, orang yang disegani, orang yang banyak dirujuk oleh masyarakat dalam berbagai problem yang terjadi.
Nan tuo kemudian berjalan melihat keriuhan pasar, tua-muda, bahkan anak-anak silih berganti berlari kesana-kemari. Nan tuo memandang jauh pada anak-anak tersebut, terlintas dipikirannya, "co iko pulo lah den dulunyo, galak-galak - lari-lari" Biasalah ingatan seorang lanjut usia membayangkan umurnya yang ternyata sudah memasuki tahap akhir.
Tak hanya sampai disitu, nan tuo membayangkan betapa cepat rasanya umurnya bertambahnya, "mode itu den dulu, kini lah putiah jo kariput kulik" ia melihat betapa telah lanjut umurnya, memandang bagaimana dirinya sekarang yang telah serba minus, mata minus, telinga minus, kulit minus, dompet ikutan minus.
Ia memutuskan untuk mengelilingi pasar yang telah menjadi jantung ekonomi di kampungnya, begitulah setiap langkahnya selalu ada sapaan "nan tuo" saking berpengaruhnya dia, bahkan pedagang dari luar kampung pun ikut kenal dengannya.
Saat berkeliling pasar beraneka ragam manusia yang dilihatnya, ibuk dengan hijab dan tanpa hijab, ibuk-ibuk yang remaja, bapak-bapak dengan topi, peci, rambut dan tanpa rambut dengan aneka ragam pakaiannya.
Ia terhenti di sebuah warung sate, ya kata orang-orang mah itu sate yang paling enak. Ia memesan dan menikmati hidangan satenya. Di saat bersamaan ia duduk bersama seorang pria yang teduh wajahnya, untaian rambut bergantungan di dagunya, warna agak gelap di tengah keningnya, dan sepertinya celananya pun cingkrang. Dia dikenal dengan ustad Don, seorang pendakwah yang hadir di tengah masyarakat dengan metode dan pendekatan yang kekinian.
Nan Tuo yang terlihat akrab bercengkrama dengan ustadz Don memperlihatkan mereka tidak hanya bertemu sekali saja. Percakapan mereka menyinggung berbagai hal yang terjadi di masyarakat, sosial, ekonomi, agama, bahkan pemerintahan. Agama adalah sisi yang paling dominan pembahasan mereka. Ya maklumlah pertemuan dengan ustadz, yang tentu maa sya Allah sekali pengetahuan agamanya.
Hingga pembahasan tersebut menjadi agak tegang, ketika Nan Tuo memberitahukan serta mengajak ustad Don untuk mengisi ceramah acara maulid nabi Muhammad saw. Karena bertepatan seminggu lagi akan memperingati hari lahirnya Musthafa Muhammad saw.
"Apo pak? Maulid nabi?" Tanya ustadz Don untuk memastikan apa yang ia dengar sembari memperbaiki posisi duduknya
"Yops ustad, maulid nabi peringatan hari lahirnya Rasulullah sembari dakwah tadz" jawab Nan Tuo dengan wajah keheranan, seolah ada yang salah dengan yang ia ucapkan.
"Maa sya Allah pak, Alhamdulillah masih ado ghirah dakwah di kito pak" ucap ustadz Don.
"Maaf pak, bagi ambo pribadi dak setuju, kalau ado satu hari spesial maulid nabi" jawabnya dengan tenang, sembari menekuk air di gelasnya.
"Baa dek gitu tadz, syiar agama Islam ko! membahas kehidupan nabi kito pulo!" sahut Nan Tuo, tersentak mendengar hal yang tak terbayangkan.
"Baiko mah Nan Tuo, yang patamo bana Nabi dak pernah mensyaratkan hal itu kepado kito" jelasnya.
"Dan juo, sabana e dak ado tanggal pasti bilo nabi lahir, sadangkan nan ulama sepakat nabi wafat tanggal 12 mah nan tuo"
Informasi itu mengubah semua hal, hati yang dahulu keras, selangkah mulai retak, bagaikan daging sate yang tak terasa lagi.
"Hah 12? Maso iyo tadz, berarti baa sabalum ko kami, salah malakuan itu" tanyo Nan Tuo, yang membuat raut wajahnya berubah mendengar hal yang tabu ini.
Banyak penjelasan utadz Don dalam meyakinkan Nan Tuo tentang hal itu, Nan Tuo menyerap, mengetahui bingung dan pusing. hanya saja setelah itu tadz Don izin pamit, karena profesinya sebagai guru harus dipenuhinya. Sedangkan Nan Tuo masih melanjutkan santapannya. Ntah apa rasa sate yang dimakan Nan Tuo karena dimakan saat pikirannya penuh tanda tanya.
Ia mendengar penjelasan Ustadz Don tentang nabi yang tak pernah mensyariatkan, tentang tanggal lahir yang tak pasti, tentang bid‘ah. Ia mendengar semuanya. Tapi yang paling keras justru suara di dalam kepalanya sendiri.
"Jadi salamo iko salah?
Salamo iko kami keliru?"
Ternyata, obrolan Nan Tuo dan ustadz Don ikut didengar oleh pelanggan lain, Rio yang cukup tergelitik mendengar percakapan itu mendekati Nan Tuo yang tampak masih menggerutu karena kebingungan.
"Baa mode itu bana paniang Nan Tuo nampak e" tanya Rio sembari duduk di tempat yang ditempati oleh ustadz Don sebelumnya.
"Iko Rio a, tadi ambo maajak tadz Don untuak maisi kajian maulid..."
"Salah kato e dak pak?" Belum selesai Nan Tuo bicara, Rio langsung menyela dan bertanya.
"Memang mode itu mah pak, tadz Don tu, beliau tu bilo ka manyalahan nan awak lakuan, katonyo bid'ah-lah, salah lah, dak dikarajoan nabi lah" jelas Rio meskipun terdengar penuh emosi
"Baa lai, kok indak dilakuan dek nabi baa caro e ley, tu lah samo lo jo nabi awak, mambuek syariat" ungkap Nan Tuo
"Hati-hati ajo awak kini mancari ustadz pak, banyak nan macam-macam kini tu, ikuik an ajo yang lah ado ko pak" jelasnya dengan begitu serius, tapi Nan Tuo masih bimbang.
"Pak, salamo inda mancilok, mambunuah, jo marugian urang aman tu " tegas Rio
"Ealah, paniang ambo dek e. Agamo lai cieknyo, samo Islam, namuah babeda mode iko" ujarnya dengan nada sedikit kesal
Nan Tuo pun membayar sate yang telah ia makan. Tetap sama dengan wajah yang bingung dan kesal. Sebelum ia berangkat ia menyampaikan apa yang dirasakannya pada Rio.
"Rio, kok mode iko bana ribet e, lah saliang manyalahan a, umat nan ka jadi korban, ancak indak baragamo bana ley" katanya, sembari melangkahkan kaki keluar warung.
Penulis: Elgi Kurniawan
