LPM-AL-ITQAN-Di lemari kamarku, ada gantungan kosong yang selalu kubayangkan berisi seragam cokelat muda dengan topi dan lambang di dada. Aku sering berdiri di depannya, membayangkan diriku tegap, rambut disanggul rapi, sepatu mengkilap.
Aku ingin menjadi polwan bukan sekadar pekerjaan, tapi cita-cita yang tumbuh sejak kecil setiap kali melihat polisi perempuan mengatur lalu lintas dengan tenang di bawah terik matahari.
Namun anehnya, aku belum pernah benar-benar mendaftar.
Setiap tahun saat pendaftaran dibuka, aku hanya melihat pengumuman di ponsel, membaca syarat-syaratnya, lalu menutup layar dengan napas panjang. Di kepalaku selalu muncul kalimat yang sama: “Aku pasti tidak lulus.” Padahal aku belum mencoba. Padahal namaku bahkan belum pernah tertulis di formulir pendaftaran.
Ketakutan itu tumbuh seperti bayangan tak terlihat jelas, tapi selalu mengikuti. Aku takut tinggi badanku kurang. Takut lari tidak cukup cepat. Takut orang lain lebih pintar, lebih kuat, lebih pantas. Ketakutan itu membuatku merasa sudah gagal sebelum garis start terlihat. Seolah-olah ada pengumuman tak resmi di dalam hatiku Tidak lulus.
Suatu malam, aku kembali berdiri di depan gantungan kosong itu. Untuk pertama kalinya aku bertanya pada diriku sendiri, “Apa aku benar-benar tidak lulus, atau aku hanya tidak berani mencoba?” Pertanyaan itu sederhana, tapi terasa seperti pintu yang lama terkunci akhirnya terbuka sedikit.
Aku sadar, selama ini aku bukan kalah dari seleksi, melainkan kalah dari pikiranku sendiri. Aku menolak diriku lebih dulu sebelum orang lain sempat menilai. Aku menyerah di lomba yang belum dimulai. Dan gantungan kosong itu bukan tanda kegagalan melainkan tanda bahwa aku belum memberi diriku kesempatan.
Keesokan harinya aku mulai hal kecil lari pagi di jalan yang biasanya kulewati hanya karena ingin pergi sekolah. Nafasku terengah, kakiku pegal, tapi ada perasaan aneh perasaan hidup. Aku belum menjadi polwan, belum mendaftar, bahkan belum tahu akan lulus atau tidak. Namun pagi itu aku menang atas satu hal: rasa takut yang selama ini lebih besar dari mimpiku.
Mungkin suatu hari aku benar-benar akan mendaftar dan mungkin juga aku tidak lulus. Tapi setidaknya kegagalan itu nyata, bukan sekadar bayangan. Karena kegagalan yang nyata masih bisa dijadikan pelajaran, sedangkan kegagalan yang hanya ada di kepala hanyalah penjara tanpa dinding.
Gantungan di lemariku masih kosong. Tapi kini aku tak lagi melihatnya sebagai tempat seragam yang tak pernah kupakai. Aku melihatnya sebagai ruang kemungkinan tempat untuk keberanian yang sedang kupersiapkan. Karena ternyata, kegagalan paling menyakitkan bukan ketika kita ditolak, melainkan ketika kita menolak diri sendiri sebelum mencoba.
Penulis: Wisma Warn
