LPM AL-ITQAN— Memasuki dunia perkuliahan menjadi awal perjalanan baru bagi mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi. Mahasiswa tersebut datang dari berbagai daerah, guna mengenyam pendidikan di UIN Bukittinggi. Saat ini mahasiswa memasuki tahap orientasi sebagai pengenalan terhadap lingkungan kampus. Akan tetapi sebelum mencapai tahap ini mahasiswa memiliki alasan dan tujuan memilih UIN Bukittinggi.
Fita Anggraini, mahasiswa Bisnis Digital asal Agam, Menyampaikan usahanya mempersiapkan diri untuk menghadapi pendaftaran perguruan tinggi. Sebagai mahasiswa eligible Fita memantapkan hatinya untuk memilih prodi tersebut.
Silfati Hatul Hasanah, mahasiswa Program Studi Bisnis Digital asal Lubuk Sikaping Pasaman, mengaku awalnya tidak pernah membayangkan akan berkuliah di UIN Bukittinggi. Namun, setelah mendapat arahan dari guru Bimbingan dan Konseling saat memilih perguruan tinggi melalui jalur SNBP, ia akhirnya memilih program studi yang sesuai dengan mata pelajaran pilihannya di SMA.
Lebih jauh, Mohd. Radiansyah, mahasiswa Informatika asal Lubuk Sikaping Pasaman. Mengatakan, ia memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah keperawatan di Padang. Namun, keinginan tersebut tidak terwujud karena orang tuanya merasa keberatan melepasnya jauh dari keluarga. Setelah berkonsultasi dengan guru BK, ia kemudian mencoba pilihan lain hingga akhirnya lolos melalui jalur SNBP di Program Studi Informatika UIN Bukittinggi.
Selain itu, terdapat mahasiswa yang mempertimbangkan lokasi kampus yang relatif dekat dari rumah, rekomendasi guru, serta keinginan memperoleh pendidikan yang memadukan ilmu umum dengan nilai-nilai keislaman. Sebagaimana yang di ungkapkan Radiansyah, lokasi kampus yang tidak jauh dari rumahnya di Lubuk Sikaping.
"Lokasi kampus strategis dan lingkungan kotanya nyaman untuk belajar serta dekat dari orang tua," ungkap Radiansyah.
Namun, memasuki dunia kampus juga menghadirkan sejumlah kekhawatiran. Radiansyah mengaku memiliki banyak hal yang menjadi perhatian, mulai dari kemampuan beradaptasi dengan sistem SKS, mengatur waktu, menjaga pergaulan, hingga kekhawatiran terhadap tuntutan akademik dan hafalan Al-Qur'an.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan Fita Angreini, mahasiswa Bisnis Digital asal Agam. Ia menilai ritme perkuliahan akan menuntut kemampuan manajemen waktu yang lebih baik, terutama dalam membagi waktu antara kegiatan akademik dan organisasi.
"Saya cemas tidak mampu membagi waktu dengan baik antara jadwal kuliah yang dinamis, tugas-tugas mandiri, dan keinginan untuk aktif di organisasi,” ungkapnya.
Hal yang sama juga disampaikan Silfati, karena memasuki lingkungan baru. Ia mengaku takut tidak memiliki teman dan harus menjalani kehidupan jauh dari orang tua. Meski demikian, ia tetap berharap untuk memperoleh prestasi akademik yang baik serta menemukan lingkungan pertemanan yang nyaman selama menjalani perkuliahan.
Meskipun demikian, mahasiswa baru tetap membawa targetnya masing-masing. Dari para narasumber ada yang ingin lulus tepat waktu dengan predikat terbaik, memperoleh pengalaman dan keterampilan untuk dunia kerja, aktif dalam organisasi, hingga membangun relasi selama berada di kampus.
Bagi Fita, pendidikan tinggi tidak hanya menjadi ruang untuk mengejar nilai akademik. Ia berharap ilmu yang diperolehnya selama kuliah dapat menjadi keterampilan praktis yang dapat digunakan di masa depan, termasuk untuk menciptakan inovasi dan membantu pengembangan usaha masyarakat.
Di balik seluruh perjalanan tersebut, dukungan orang tua menjadi salah satu benang merah yang muncul dari cerita para mahasiswa baru. Bagi sebagian dari mereka, kesempatan untuk memasuki perguruan tinggi bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga membawa harapan keluarga yang ingin mereka wujudkan melalui pendidikan.
Penulis: Elgi Kurniawan
Foto: Elgi Kurniawan

