LPM AL-ITQAN - Perkembangan teknologi digital tidak mengurangi minat mahasiswa mengunjungi Perpustakaan UIN Sjech M. Djamil Djambek (SMDD) Bukittinggi. Hal ini terlihat dari data kunjungan perpustakaan yang mencapai 19.651 kunjungan pada Semester Ganjil (Juli–Desember) dan 16.873 kunjungan pada Semester Genap (Februari–Juni).
Kurnia, S. Si., pustakawan UIN Sjech M. Djamil Djambek (SMDD) Bukittinggi mengatakan bahwa perpustakaan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman agar tetap relevan dengan kebutuhan mahasiswa.
“Kita di perpustakaan juga harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman itu. Jadi, sesuai kebutuhan mahasiswa, perpustakaan harus bertransformasi juga, tidak hanya menjadi perpustakaan yang konvensional yang hanya menyediakan cetaknya saja,” ujarnya saat diwawancarai, (10/06).
Sebagai bentuk transformasi tersebut, perpustakaan menyediakan layanan e-library, jurnal elektronik, repository digital, hingga e-book yang dapat diakses mahasiswa. Melalui repository digital, mahasiswa dapat melihat abstrak dan sinopsis skripsi secara daring. Namun, akses terhadap naskah lengkap tetap dibatasi sebagai langkah pencegahan plagiarisme.
Selain layanan digital, perpustakaan juga terus berupaya meningkatkan kenyamanan pengunjung melalui berbagai fasilitas.
“Kalau untuk fasilitas, perpustakaan sudah menyediakan berbagai fasilitas. Kita juga menyediakan ruang IT, ruang baca, mini teater, dan berbagai sudut baca untuk menunjang kebutuhan mahasiswa,” jelasnya.
Pihak perpustakaan menilai tingginya kunjungan mahasiswa tidak terlepas dari berbagai inovasi yang terus dilakukan setiap tahun. Selain menyediakan fasilitas yang lebih nyaman, perpustakaan juga mengadakan program bimbingan pemustaka bagi mahasiswa baru serta kegiatan yang melibatkan berbagai program studi.
Meskipun saat ini mahasiswa lebih mudah memperoleh informasi dari internet, pustakawan menegaskan bahwa yang terpenting adalah kemampuan memilih sumber informasi yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Menurut Ibu tidak apa-apa karena kita hidup di era digital. Informasi tidak hanya terbatas di buku saja, bisa juga melalui internet dan jurnal. Namun, mahasiswa harus mencari informasi yang benar-benar berasal dari sumber yang terpercaya,” katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pengalaman Nurul Fauzi, mahasiswa Program Studi Statistika Semester II, yang mengaku hampir setiap hari mengunjungi perpustakaan. Ia memanfaatkan perpustakaan untuk membaca buku, meminjam koleksi, mengerjakan tugas, hingga menunggu pergantian jadwal kuliah.
“Lumayan sering, hampir setiap hari kalau pergi kuliah,” ujarnya.
Nurul menilai fasilitas yang tersedia sudah cukup nyaman dan mampu menunjang aktivitas belajar mahasiswa. Ia mengaku sering menggunakan ruang baca di lantai satu karena suasananya yang nyaman untuk belajar.
“Menurut saya, fasilitasnya sudah nyaman. Tidak ada yang kurang,” katanya.
Meski demikian, Nurul berharap koleksi buku yang tersedia, khususnya pada bagian peminjaman, dapat terus dilengkapi. Menurutnya, kebutuhan referensi akademik yang semakin beragam membuat mahasiswa kerap mencari sumber tambahan melalui internet.
“Kalau untuk tugas biasanya saya mencari secara online. Kalau di sini kurang lengkap. Terutama buku-buku di lantai dua untuk peminjaman masih belum lengkap,” ungkapnya.
Kendati lebih sering memanfaatkan sumber digital untuk mencari referensi tugas, Nurul tetap menilai keberadaan perpustakaan fisik sangat penting bagi mahasiswa.
“Kalau bagi saya, perpustakaan tetap penting,” tegasnya.
Tingginya angka kunjungan yang mencapai Belasan ribu dalam satu Semester menunjukkan bahwa perpustakaan masih memiliki peran penting sebagai pusat informasi dan pembelajaran di lingkungan kampus.
Penulis: Rijal Mahendra, Mulyatul Aini, Jessica Safitri
Sumber foto: Rijal Mahendra
