LPM-AL-ITQAN-Pagi itu, langit masih diselimuti kabut tipis ketika aku melangkah keluar rumah. Udara dingin menusuk kulit, membuat napasku terlihat seperti asap kecil yang keluar dari mulut. Sepatu hitamku sudah siap di tangan, bukan di kaki. Aku tahu, jalan menuju sekolah akan dipenuhi lumpur setelah hujan semalaman.
Rumahku berada di ujung desa, jauh dari sekolah. Untuk sampai ke sekolah, aku harus melewati jalan tanah yang panjang selama lebih kurang 1 jam. Ketika musim hujan tiba, jalan itu berubah menjadi hamparan lumpur yang licin dan lengket. Tidak ada jalan alternatif, tidak ada kendaraan yang bisa melintas. Satu-satunya cara adalah berjalan kaki.
Saat masih duduk di bangku SD, perjalanan ke sekolah bukanlah hal yang mudah. Setiap pagi, sebelum matahari terbit sepenuhnya, aku sudah bersiap berangkat. Ibuku sering menatapku dengan rasa khawatir, terutama ketika hujan turun deras sejak malam.
“Berhati-hatilah di jalan,” pesannya setiap pagi.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum, meskipun di dalam hati ada rasa takut menghadapi jalan yang becek dan licin.
Jalan tanah yang kulalui berubah menjadi lumpur pekat setiap hujan turun. Tanahnya lengket, seakan menahan setiap langkah kakiku. Aku harus berjalan perlahan, menapaki setiap langkah dengan hati-hati agar tidak terpeleset. Terkadang, kakiku tenggelam di lumpur hingga mata kaki. Ketika aku mencoba menarik kaki, sepatu yang kupakai sering tertinggal di dalam lumpur.
Itulah sebabnya aku lebih sering membawa sepatu di tangan dan berjalan tanpa alas kaki. Kaki kecilku terbiasa merasakan dinginnya tanah, tajamnya kerikil, dan lembutnya lumpur yang basah. Setelah melewati jalan terburuk, barulah aku membersihkan kaki di genangan air dan memakai sepatu sebelum sampai di sekolah.
Seragam putih merahku tak jarang terkena cipratan tanah. Meski sudah berhati-hati, lumpur sering menempel di ujung celana atau rok. Aku pernah merasa malu ketika teman-teman melihat pakaianku yang kotor. Namun lama-kelamaan, rasa malu itu berubah menjadi kebiasaan yang harus kuterima.
Di dalam hati, ada semangat yang selalu mendorongku untuk terus berjalan, meski jalan terasa berat. Aku percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan. Keyakinan itu menjadi kekuatan yang membuatku tidak pernah ingin menyerah.
Aku masih ingat bagaimana dinginnya pagi menyelimuti tubuhku. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah yang khas. Tas di punggung terasa semakin berat, berisi buku-buku pelajaran yang harus kupelajari. Terkadang pundakku terasa pegal, langkahku melambat karena kelelahan. Tetapi bayangan tentang sekolah, tentang belajar bersama teman-teman, tentang mendengar penjelasan guru di kelas, membuat langkahku tetap kuat.
Perjalanan satu jam menuju sekolah menjadi bagian dari rutinitasku. Di sepanjang jalan, aku sering melihat petani mulai bekerja di sawah, suara burung berkicau di pepohonan, serta kabut pagi yang perlahan menghilang. Semua itu menjadi teman setia dalam perjalanan panjangku.
Memasuki masa SMP, perjuanganku tidak banyak berubah. Jalan yang sama masih harus kulalui setiap hari. Namun kini jaraknya terasa lebih jauh, seakan tanggung jawabku juga semakin besar. Pelajaran semakin sulit, tugas semakin banyak, dan harapan untuk masa depan terasa semakin nyata.
Sepatu yang dulu sering kubawa di tangan kini kadang kupakai sejak awal, meski harus siap kotor oleh lumpur. Aku mulai terbiasa menghadapi kesulitan, meski terkadang rasa lelah datang menghampiri.
Saat hujan turun deras, jalan menjadi lebih sulit dilalui. Lumpur menjadi lebih dalam, dan permukaan tanah semakin licin. Pernah suatu hari, ketika langkahku tergesa karena takut terlambat, kakiku terpeleset. Tubuhku jatuh keras ke tanah, seragamku penuh lumpur, tas yang kubawa ikut kotor.
Aku duduk terdiam beberapa saat. Lututku terasa sakit, dan mataku mulai berkaca-kaca. Saat itu, aku hampir menangis. Rasa lelah, kecewa, dan putus asa bercampur menjadi satu.
Aku bertanya dalam hati, mengapa jalan menuju pendidikan harus seberat ini?
Namun setelah beberapa saat, aku bangkit. Aku membersihkan pakaian seadanya, menepuk-nepuk tas yang kotor, lalu melanjutkan perjalanan. Saat itu aku sadar, menyerah bukanlah pilihan. Jika aku berhenti, semua perjuanganku akan sia-sia.
Sejak kejadian itu, aku menjadi lebih kuat. Aku belajar menerima kesulitan sebagai bagian dari perjalanan hidup. Jalan becek yang setiap hari kulalui bukan lagi sekadar rintangan, tetapi guru yang mengajarkanku arti kesabaran dan keteguhan.
Setiap langkah di jalan itu mengajarkanku bahwa hidup tidak selalu mudah. Ada saat-saat di mana kita harus berjalan perlahan, menghadapi kesulitan dengan sabar, dan tetap melangkah meski merasa lelah.
Aku juga belajar tentang rasa syukur. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk bersekolah. Meskipun harus melalui jalan yang sulit, aku masih memiliki kesempatan untuk belajar dan mengejar cita-cita.
Di sekolah, aku selalu berusaha belajar dengan sungguh-sungguh. Aku tidak ingin perjuangan panjang yang kulalui setiap hari menjadi sia-sia. Setiap pelajaran yang kupahami terasa seperti hadiah atas perjalanan berat yang telah kulalui.
Guru-guru sering memujiku karena kedisiplinanku. Mereka tidak mengetahui sepenuhnya perjuangan di balik kedatanganku setiap pagi. Namun bagi diriku sendiri, setiap keberhasilan kecil menjadi bukti bahwa semua usaha tidak sia-sia.
Kini, ketika aku mengenang perjalanan itu, aku menyadari bahwa jalan becek tersebut bukan hanya sekadar rintangan. Ia adalah saksi bisu perjuanganku dalam mengejar pendidikan dan mimpi. Jalan itu telah membentukku menjadi pribadi yang lebih kuat, sabar, dan pantang menyerah.
Dari jalan yang kotor itu, aku belajar bahwa keberhasilan tidak selalu dimulai dari kemudahan, tetapi dari keberanian untuk terus melangkah. Aku belajar bahwa setiap kesulitan menyimpan pelajaran berharga bagi mereka yang mau bertahan
Jalan becek itu juga mengajarkanku tentang harapan. Setiap pagi, meski harus melewati lumpur dan rasa lelah, aku selalu percaya bahwa masa depan yang lebih baik menungguku di ujung perjalanan.
Kini, setiap kali melihat jalan yang mudah dilalui, aku teringat masa-masa itu. Aku teringat bagaimana kakiku pernah tenggelam dalam lumpur, bagaimana seragamku pernah kotor, dan bagaimana aku tetap melangkah meski hampir menyerah.
Semua kenangan itu menjadi pengingat bahwa perjuangan adalah bagian penting dari hidup. Tanpa kesulitan, mungkin aku tidak akan memahami arti keteguhan dan kerja keras.
Meski sepatu kotor dan langkah terasa berat, aku tetap berjalan. Karena aku percaya, di ujung jalan becek itu selalu ada harapan yang menunggu. Harapan untuk masa depan yang lebih baik, harapan untuk mewujudkan mimpi, dan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.
Jalan itu mungkin penuh lumpur, tetapi di sanalah aku menemukan kekuatan dalam diriku sendiri. Jalan itu mungkin sulit dilalui, tetapi di sanalah aku belajar arti perjuangan yang sesungguhnya.
Dan hingga kini, di dalam hatiku, jalan becek itu akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupku jalan yang membawaku lebih dekat pada mimpi.
Penulis: Wisma Warn
