Sore yang sangat gelap. Sinar matahari tertutupi oleh pekatnya awan hitam yang menggantung dilangit seperti akan membungkus bumi nan indah. Pohon-pohon bagai penari handal yang penari yang menari dengan anggun diudara oleh belaian angin kencang. Tidak ada satupun manusia yang mau keluar rumah saat ini kecuali jangkrik, katak dan hewan-hewan kecil lainnya yang menikmati waktu bersenang-senang saat itu. Dalam hitungan jari, hujan deras turun ke permukaan bumi dengan dengan riak air yang teratur menyentuh taman kota pada sore itu.
Sebuah gubuk tua dipinggir pusat kota, seorang gadis menangis tersedu-sedu dan sangat pilu untuk didengar oleh orang lain. Semuanya sudah tidak bisa ditahan lagi. Lewat hujan ia senandungkan penyesalan mendalam. Dari air mata, ia tumpahkan segalanya. Dengan perantara hujan ia sampaikan bahwa ia sangat menyesal.
Kehidupan Indah yang tidak lagi bahagia yang terlewatkan hanya begitu saja. Ia memikirkan nasibnya sekarang ini. Apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melanjutkan hari berikutnya. Dalam keheningan kelas, Indah duduk termangu menopang kepala dengan kedua tangannya. Menangis dalam diam dengan menahan sesak dihati kecilnya.
Keesokan harinya, pada pagi yang indah, azan subuh terdengar merdu menembus celah-celah kecil jendela kamar Indah. Bersiap bangun untuk melanjutkan aktivitasnya yaitu pergi sekolah. Sebenarnya Indah tidak ingin bersekolah lagi. Ia ingin menjauhkan diri dari hiruk pikuk dunia yang melelahkan. Tapi apa mau dibuat, janji yang terpatri kuat dalam jiwanya memaksa Indah untuk tetap menjalankan janjinya walaupun sulit. Setiap menginjakkan kakinya keluar rumah, ia selalu berhenti dan termenung didepan pagar rumahnya. Apa yang harus ia lakukan ?. Itu selalu menjadi pertanyaan penting.
“Pagi Indah, cemberut aja nih. Kenapa sii, masih pagi loh, apa jangan-jangan kamu belum gogok gigi ya, ihh ke sekolah kok ga gosok gigi sih Indah”. Canda Putri kepada Indah. “Apa si Putri, aku gosok gigi tadi kok”. Balas Indah pada Putri sambil menunjukkan giginya dihadapan wajah sahabatnya itu. Tak lama kemudian, sesi pembelajaran berlangsung dengan tenang. Ibu Sri sebagai guru matkul memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya “oke anak-anak, siapa yang bisa menjelaskan lebih detail tentang materi yang barusan ibu sampaikan tadi ?”. Semua murid nampak diam dan berfikir, karena pembahasan tadi cukup sulit untuk dijelaskan oleh mereka. Sedangkan sebagian mereka tadi sama sekali tidak fokus waktu ibu Sri menjelaskan. Ibu Sri melanjutkan perkataannya, “jika tidak ada diantara kalian yang mau menjelaskannya, maka jangan harap bisa pulang satu kelas ini!”. Ancam Ibu Sri yang berhasil membuat seisi kelas gelagapan.Terpaksa Ibu Sri menunjuk Indah agar bisa menjawab pertannyaan tadi. Dia sangat malas untuk berdiri, namun demi jam pulang tepat waktu, mau tidak mau dia maju dan menjelaskan dengan detail apa yang diminta Ibu Sri tadi. Akhir-akhir ini, Indah memang lebih banyak diam dan jarang ngobrol dengan teman-temanmya. Sebelumnya, tanpa diminta pun Indah akan maju bahkan menawarkan diri untuk menjawab kuis-kuis atau pertanyaan semacam ini dari semua gurunya. Senyuman selalu menghiasi wajah cantiknya, canda tawa turut kerap terjadi pada teman-temannya. Semua menghilang dan berubah setelah tragedi itu.
Sore yang lagi-lagi mendung. Awan hitam serta jeritan petir menggelegar dilangit. Indah duduk termenung didepan jendela kamarnya sambil menatap lurus kedepan dan bekata dalam hatinya untuk apa harta berlimpah, tapi taka da kebahagian saat ini dan mungkin sampai seterusnya. Setiap hujan turun, perasaan bersalah selalu menghantuin indah pada ayah dan ibunya. Rasa bersalah yang sangat besar membuat Indah tak mampu berkata-kata. Ingin rasanya waktu kembali pada masa lalu, pasti ia akan menghabiskan hari-harinya bersama sang ayah dan ibu. Namun takdir tidak akan mengizinkannya untuk bermain lagi bersama mereka, karena keduanya sudah tidur nyenyak selama-lamanya dan tidak akan pernah bangun lagi.
Puas menangis tanpa henti, Indah berjanji pada dirinya sendiri demi ayah dan ibu tercinta untuk memperbaiki dirinya lagi. Menjalani hari seperti dulu meskipun raga mereka tidak lagi di dunia. Seorang diri karena ia tidak memiliki saudara dan keluarga besarnya di negara berbeda denganya. Walau berat, ia akan berusaha sekuat mungkin demi janjinya.
Penulis: Siti Aisya
