LPM-AL-ITQAN-Di era yang mengagungkan visibilitas, kesunyian kerap kali di salah pahami dan diclaim sebagai sebuah kecacatan sosial atau kegagalan eksistensial. Kita merasa terancam saat layar ponsel gelap, seolah-olah tanpa notifikasi, eksistensi kita sedang menguap. Padahal, jika kita memberanikan diri untuk berhenti sejenak, kita akan menyadari bahwa ketakutan akan kesendirian sebenarnya bukanlah sifat alami manusia, melainkan sebuah konstruksi sosial yang dipaksakan. Dalam realitanya kita didikte untuk percaya bahwa "terhubung" berarti "hidup", padahal sering kali kita hanya terhubung dengan ekspektasi orang lain, namun terputus dari diri kita sendiri.
Kali ini saya mengajak pembaca, coba kita berhenti sejenak dengan melakukan dekonstruksi terhadap cara kita memandang hidup. Martin Heidegger, seorang pemikir besar asal Jerman, pernah memperingatkan kita tentang bahaya hidup dalam "Das Man" atau dorongan autentik mengikuti ekspetasi Mereka, nah dalam pandangannya Heidegger berargumen bahwa sebagian besar manusia hidup dalam kedangkalan karena mereka hanya meniru cara berpikir, berbicara, dan merasakan apa yang dianggap benar oleh massa. Kita menyalakan televisi atau menggulir media sosial hanya untuk membunuh hening, karena dalam hening, topeng "Das Man" itu mulai retak.
Kita seakan-akan dipaksa untuk takut pada kesunyian karena di sanalah kita bertarung menghadapi kehampaan dari identitas yang selama ini kita pinjam dari dunia luar.
Namun, dekonstruksi semacam ini hanyalah langkah awal untuk meruntuhkan tembok yang rapuh. Setelah kita berani menolak menjadi sekadar "nomor di tengah kerumunan", di situlah tugas konstruktivisme dimulai. Kesunyian tidak boleh dibiarkan menjadi ruang hampa yang nihilistik, melainkan harus dibangun menjadi sebuah "laboratorium suci" untuk menciptakan makna.
Di sinilah kita perlu meminjam perspektif Jean-Paul Sartre dalam membangkitkan semangat Bagi Sartre, "eksistensi mendahului esensi". Artinya, tidak ada "jati diri" yang sudah jadi atau terkubur di dalam diri kita layaknya harta karun. Kita adalah apa yang kita pilih untuk menjadi. Kesunyian adalah satu-satunya ruang di mana kita benar-benar bebas dari intervensi "editor" sosial untuk menuliskan narasi hidup kita sendiri. Di dalam keheningan, kita tidak lagi "menemukan" diri, melainkan secara aktif "menciptakan" diri.
Membangun kembali makna hidup dengan menyendiri berarti mengubah "rasa sakit karena sendirian" (loneliness) menjadi "kemuliaan karena sendirian" (solitude). Ini seperti menggunakan noise-canceling earphone terhadap tuntutan moralitas massa; bukan untuk membenci dunia, tetapi untuk memastikan bahwa suara yang kita dengar adalah frekuensi paling jujur dari batin kita.
Nah dengan membangun fondasi internal yang kokoh, kita tidak lagi masuk ke ruang sosial untuk mengemis pengakuan, melainkan datang sebagai pribadi yang sudah utuh dan berdaulat.
Pada akhirnya, seni menjalani hidup adalah tentang keberanian untuk terus membongkar kepalsuan dan membangun otoritas diri. Jika kita telah mampu berteman baik dengan kesunyian kita tidak akan pernah merasa kekurangan lagi.disitu kita telah menemukan kemerdekaan paling hakiki: merasa penuh meski tanpa penonton, dan merasa cukup meski hanya ditemani oleh detak jantungnya sendiri. Jangan takut pada kesunyian; takutlah jika Anda mati sebagai orang lain karena terlalu sibuk mencari tempat di tengah kerumunan.
Penulis: Abdul Azis
