LPM-AL-ITQAN-Menteri Agama, Nasaruddin Umar, dalam pembinaan terhadap ASN di lingkungan UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi menegaskan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam, harus menjadikan keberkahan sebagai orientasi utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Nasaruddin umar menekankan, PTKIN bukan berorientasi menggapai sesuatu yang amat besar, tidak memimpikan sesuatu yang tinggi serta tidak terlalu fokus pada kuantitas. Akan tetapi PTKIN haruslah mengedepankan "berkah" dalam setiap langkah yang diambil.
"Apa artinya banyak, tinggi, besar, tetapi tidak berkah. Berkah itu diatas segala-galanya," ujarnya.
Beliau menyoroti fenomena menurunnya etika dan akhlak pelajar. Menurutnya hal tersebut tidak lepas dari hilangnya keberkahan dalam proses belajar. Nasaruddin melihat, pelajar seringkali lupa membaca basmallah sebelum belajar.
"Makanan rohani: membaca buku, menuntut ilmu, belajar tapi tidak pernah membaca basmalah, semakin pintar semakin kurang ajar," tegasnya.
Lebih lanjut, Rektor PTIQ tersebut, menekankan posisi PTKIN sebagai lembaga pendidikan di Indonesia. Menurutnya UIN pelopor pelaksanaan kalamullah. UIN menurutnya harus mampu mengaplikasikan Al-Qur'an dimana saja ia berada. Ia membedakan Al-Qur'an sebagai kitabullah yang berorientasi pada mushaf, sedangkan Al-Qur'an sebagai Kalamullah yang berorientasi pada pengamalan Al-Qur'an.
"Tapi masih ada di puncaknya, baru kita menjadi living Qur'an, kita seperti Quran berjalan," tuturnya.
Lebih lanjut, Menag RI menekankan transformasi STAIN, IAIN dan berakhir sebagai UIN harus dimaknai sebagai upaya memperluas kapasitas serta cakupan keilmuan Islam yang bersifat universal, kosmopolitan, dan integratif.
"Kalau ingin menjelaskan Islam, harus menjadikannya samudera, karena hanya samudera yang mampu menampung lautan," jelasnya.
Lebih spesifik, Nasaruddin menekankan tanggung jawab moril universitas dalam mengemban tugas menampung uversalitas Islam. Ia menekankan, lulusan UIN dapat menjadi penerang di masyarakat. Ia menyoroti fenomena para ustadz yang keliru dalam menyampaikan serta memahamkan masyarakat terhadap suatu ayat. Sehingga ia berharap UIN melakukan kajian serius dan secara benar terhadap Al-Qur'an.
"Bukan Qur'annya yang salah, tetapi cara kita memahamkan Al-Qur'an kepada masyarakat keliru," tambahnya.
Sebagai jati diri Islam, Menteri Agama menjelaskan tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh elemen di kementerian agama. Ia melukiskan Kementerian Agama, termasuk UIN, IAIN, dan STAIN seperti kain putih, setetes tinta yang menimpanya akan sangat jelas terlihat.
Disisi lain, Nasaruddin Umar menekankan pengawasan universitas terhadap mahasiswa. Ia menyoroti fenomena mahasiswa yang tidak sholat, hingga kumpul kebo. Menindaklanjuti hal tersebut, Menag meminta kepada Warek 3 untuk mengawasi serta menertibkan kontrakan serta kos-kosan mahasiswa.
"Kita yang paling penting adalah bagaimana anak didik kita menyatu dengan agama," ujarnya.
Penulis: Elgi Kurniawan
