Di bibir pantai, kau rangkai janji seputih buih
Katamu, “Aku nakhoda yang takkan membiarkanmu perih.”
Kau janjikan sebuah bahtera untuk kita pulang
Menuju mahligai yang kau sebut pelabuhan sayang.
Aku percaya, sebab matamu adalah kompas bagi hatiku.
Namun saat angin mulai kencang dan layar terkembang
Kau lepaskan jemariku dengan alasan yang kau buat tenang.
“Berlayarlah lebih dulu, kasih, kapal ini terlalu sempit,”
Ucapmu sembari menatap laut yang mulai menjepit.
“Aku tak ingin langkahmu terhambat oleh beban diriku
Teruslah melaju, aku berjanji akan menjemputmu.”
Maka dengan lugu, kubiarkan diriku hanyut sendirian
Menembus badai, menantang ombak dalam ketidakpastian.
Di tengah samudera sunyi yang bernama kesedihan
Aku terombang-ambing, memeluk janji yang kau titipkan.
Dinginnya air mata menjadi kawan di setiap malam
Menunggumu datang menjemput di antara langit yang kelam.
Betapa laknatnya engkau, nakhoda bermuka dua…
Di saat aku bertaruh nyawa melawan arus yang gila
Kau justru sedang tertawa di dermaga yang berbeda.
Kata “menjemput” hanyalah cara halusmu mengusirku pelan
Agar kau bebas memburu pelabuhan baru dengan kepuasan.
Bukan karena kapal kita yang sempit atau jalanku yang terhambat
Tapi karena matamu sudah terpikat pada dermaga yang lebih memikat.
Kau biarkan aku karam dalam janji yang kau buat mati
Sementara kau berlayar riang dengan pengganti yang baru kau dapati.
Penulis: Gutanis Qoriyah
