LPM-AL-ITQAN - Menjelang ujian, ruang kelas menjadi tempat yang menentukan akhir perjuangan. Kursi berjejer rapi dengan jarak telah terukur, seperti barisan prajurit yang siap bertempur. Suasana begitu mencekam bagi segelintir mahasiswa. Tidak jarang, kecurangan selalu ikut berpartisipasi menghiasi ruang ujian. Tidak asing lagi mereka yang curang akan berebutan duduk di kursi paling belakang agar bisa memulai permainan. Sementara itu, mereka yang memilih jujur kerap merasa berada di posisi yang tidak diuntungkan. Inilah awal dari lahirnya prestasi semu, yang dimana kejujuran dinomorduakan seakan tidak lagi memiliki arti.
Budaya mencontek sudah menjadi kebiasaan dan bahkan tidak lagi dipandang buruk di kalangan mahasiswa. Dengan alasan, "kita harus berpandai-pandai di bangku kuliah". Berpandai-pandai? Saya setuju bahkan sangat mendukung hal itu. Namun, sebagian mahasiswa keliru dalam memaknai perkataan ini. Mereka berpandai-pandai agar mendapatkan nilai yang bagus dengan cara yang licik.
Seiring berkembangnya zaman teknologi pun semakin canggih, siapa yang tidak kenal dengan AI, ChatGPT, Gemini dan sebagainya. Aplikasi Inilah yang memudahkan mereka bermain dalam kecurangan.
Mencontek bukan lagi hal yang memalukan. Bahkan ada di antara mereka yang bangga dengan melakukannya. Mendapatkan nilai tinggi karena hasil mencontek merupakan sebuah prestasi yang kosong. Hal ini terjadi karena pendidikan saat ini lebih mengutamakan nilai, dan IPK tinggi
Keduanya adalah hal yang sangat dibanggakan sehingga mahasiswa berupaya meraih prestasi dengan cara apapun.
Namun, sangat disayangkan bagi mereka yang jujur justru tidak berani mengungkap kebenaran. Sebuah ironi, kebanyakan dari mereka hanya memilih untuk diam dan tidak mau ikut campur. Karena kata "Cepu" lebih dianggap memalukan daripada keberanian untuk berkata jujur.
Lebih khusus, secara umum mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan serta menyembunyikan hal yang benar telah Allah larang, sebagaimana dalam Q.S al-Baqarah: 42
ÙˆَÙ„َا تَÙ„ْبِسُوا الْØَÙ‚َّ بِالْبَاطِÙ„ِ ÙˆَتَÙƒْتُÙ…ُوا الْØَÙ‚َّ ÙˆَØ£َÙ†ْتُÙ…ْ تَعْÙ„َÙ…ُونَ
"Dan janganlah kamu campuradukkan yang benar dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang benar, sedangkan kamu mengetahui.”
Wahbah al-Zuhaili dalam tafsir al-Wajiz menjelaskan ayat ini tertuju pada ahl kitab yang menyembunyi kenabian Rasulullah. Beliau juga menyoroti larangan Allah untuk mencampurkan kebenaran agama dan kebathilan, serta antara kejujuran dengan kebohongan. Maka menyembunyikan kegiatan yang melanggar dan curang termasuk pembahasan dalam ayat ini
Budaya mencontek perlu di tiadakan jangan sampai menjadi kebiasaan dan dianggap hal normal bagi generasi berikutnya.
Sungguh miris jika generasi Indonesia lahir dengan prestasi semu tanpa karakter dan integritas.
Sebagai mahasiswa yang dikenal kritis, sudah seharusnya kita berpikir berulang kali sebelum melakukan tindakan memalukan ini. Dan juga sudah semestinya bijak dalam menggunakan teknologi. Jadilah mahasiswa yang cerdik, bukan licik.
Penulis: Putri Diana
