Sore itu, jalanan kota tampak ramai. Di kejauhan tampak Nana berjalan pelan keluar dari kantornya menuju pangkalan ojek yang berada tidak jauh dari kantornya.
"Bang, antar ke Jl. Pegangsaan no. 15 ya." ucap Nana kepada salah satu tukang ojek.
Lima belas menit kemudian akhirnya Nana sampai di depan gang kecil. Ia turun dan membayar ongkos, lalu masuk ke dalam gang itu. Nana berhenti di depan rumah berwarna biru muda lalu membuka gerbang kecil yang tidak terkunci. Sesampainya di depan pintu, ia merogoh tasnya lalu membuka pintu.
"Assalamualaikum," ujarnya pelan.
Sunyi. Tak ada jawaban.
Nana langsung menuju kamar untuk bersih-bersih. Tak lama dia keluar dan langsung menuju dapur. Nana melirik arloji yang melingkar di tangannya. "Masih jam 17.00" gumamnya.
Nana membuka lemari dapur, mengambil panci dan merebus air. Kemudian mengambil gelas berwarna biru dengan ukiran unik di bagian pegangannya lalu memasukkan bubuk kopi dan sedikit gula serta air panas yang tadi ia masak.
Aroma kopi memenuhi seisi dapur. Mencium aroma kopi yang wangi membuat Nana tersenyum. Ia membawa kopi dan sepiring roti manis untuk dinikmati di kursi teras rumah.
Baru saja Nana meletakkan nampan itu di atas meja, ponselnya berdering. Nama Tika, sahabatnya muncul di layar.
"Halo, Assalamualaikum Nana." ucap Tika riang. Mendengar suara cempreng sahabatnya di seberang telepon membuat Nana yang tadinya merasa lelah setelah seharian bekerja sedikit berkurang.
"Waalaikumsalam, ada apa Tika?" Tanya Nana
"Gimana kabar kamu? Udah lama ya kita ga ketemu" tanya Tika
"Alhamdulillah baik Tik, kamu sendiri gimana?" jawab Nana. Lama mereka bercengkrama menceritakan banyak hal yang terjadi di kehidupan masing-masing. Kemudian Tika menanyakan hal yang sedari tadi ia tahan "Kamu beneran nggak bakal balik ke kantor lagi, Na? Pak Bambang masih sering nanyain kamu loh."
Mendengar pertanyaan itu Nana terkekeh "Kan dari awal aku udah bilang, Tik. Aku nggak mau balik lagi. Aku mau tinggal di sini aja."
“Di rumah ini?”
Nana mengangguk.
“Aku mau tinggal sama Ibu.”
Tika menarik napas pelan sebelum kembali berkata, “Yaudah deh, nanti aku bilangin ke pak Bambang. Kapan-kapan aku ke sana, ya. Sekalian kita ziarah ke makam Ibu.”
Nana terdiam. Panggilan berakhir.
Nana meraih gelas biru di atas meja, perlahan ia seruput kopi itu sembari memandang langit yang tadinya berwarna biru perlahan berubah menjadi oranye.
"Bu, langitnya indah ya" gumam Nana sembari mengangkat gelas. Jarinya mengusap ukiran unik pada pegangan gelas. Ingatannya melayang jauh pada bertahun-tahun yang lalu.
Tiap sore sepulang sekolah, Nana selalu melihat Ibu duduk di teras dengan gelas birunya dan senyum hangat yang selalu terpatri di wajahnya.
Waktu berlalu.
Setelah lulus kuliah, Nana diterima bekerja di kota besar. Pada tahun pertama ia merantau, Nana masih rutin pulang. Namun, pekerjaan yang semakin sibuk membuat Nana mulai jarang pulang.
Kepulangan yang awalnya setiap beberapa minggu berubah menjadi beberapa bulan sekali. Hingga akhirnya, Nana terkadang hanya sempat menelepon di sela-sela kesibukannya.
“Nggak usah sering-sering pulang, Nak. Kamu pasti capek. Kalau ada hari libur, lebih baik dipakai istirahat ya. Ibu di sini baik-baik aja kok.”
Nana selalu mengiyakan.
Sampai suatu hari, Ibu mulai sakit...
Saat itu Nana sedang fokus untuk kenaikan jabatan.
"Pulanglah kalau sempat, Nak,” pinta Ibu suatu malam melalui telepon.
Nana terdiam sejenak. “Iya, Bu. Minggu depan Nana pulang ya.”
Namun pekerjaan kembali menyibukkan Nana. Hari berganti hari, dan rencana kepulangan itu terus tertunda.
Hingga akhirnya, minggu depan yang ia janjikan tidak pernah datang.
Nana memasuki halaman rumah.
Sunyi. Seperti ada yang hilang.
Di depan pagar, seorang tetangga yang sejak tadi memperhatikannya menghampiri.
"Nana? Abis dari makam ya?"
"Iya, Bu."
Tetangga itu terdiam, matanya beralih ke teras rumah Nana.
"Dulu, tiap sore ibu kamu bakal duduk disana sembari minum kopi dengan gelas biru itu," lanjutnya. "Dia bilang, siapa tahu Nana pulang hari ini."
Dulu, tiap sore, Ibu duduk di kursi itu sambil membawa gelas biru, menunggu Nana pulang.
Kini, setiap sore, Nana duduk di kursi yang sama dengan gelas yang sama.
Ia tidak terlalu suka kopi. Ia hanya ingin merasakan sedikit saja dari penantian yang dulu begitu sabar dilakukan ibunya.
Dulu, Ibu menunggu Nana pulang.
Sekarang, Nana hanya bisa menunggu kenangan itu datang kembali.
Penulis: Jessica Safitri

