LPM AL-ITQAN —Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi melaksanakan Yudisium Wisudawan/ti Angkatan XIII di Aula Gedung FUAD dari pukul 08.00-selesai. Acara ini dihadiri oleh Wakil Rektor, Dosen, Dekan serta para wisudawan FUAD.
Peserta yudisium FUAD sebanyak 135, terdiri dari prodi IAT (29 orang), ILHA (9 orang), KPI (36 orang), SPI (12 orang), AFI (9 orang), SA (29 orang) S2 AFI (11 orang).
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan keputusan dari Dekan FUAD bapak Prof Dr. Syafwan Rozi M. Ag., di lanjutkan dengan prosesi Yudisium dan pengukuhan lulusan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, pemberian penghargaan lulusan terbaik akademik dan non akademik oleh bapak Abdul Aziz S.Ag,. M.H
Kegiatan dilanjutkan dengan orasi ilmiah oleh Wakil Dekan FUAD, Dr. Nurlizam, M.Ag. Dalam orasinya, beliau memberikan amanat dan pesan mendalam kepada para wisudawan/ti:
1. Menjadi Perintis, Bukan Sekadar Pewaris: Beliau mengingatkan para lulusan bahwa mereka lahir dan dididik sebagai perintis masa depan yang harus siap berjuang dari bawah dan menciptakan peluang baru di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi pewaris yang berpangku tangan.
2. Kesiapan Menghadapi Dunia Kerja: Beliau menekankan agar para lulusan FUAD dapat membawa ilmu, moral, serta nilai-nilai keislaman yang telah dipelajari selama di kampus untuk diterapkan secara nyata di dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Orasi ilmiah juga disampaikan oleh salah satu Alumni Fuad, Ashabul Yamin S.Sos,
(Founder Lembaga Pelatihan Public Speaking & Pegawai RRI Bukittinggi). Dalam penyampaiannya, ia menekankan beberapa poin penting untuk para wisudawan/ti:
1.Menanamkan Mindset Positif dan Mengelola Rasa Takut
Ia mengingatkan bahwa wajar jika timbul rasa takut akan masa depan dan dunia kerja setelah lulus. Namun, rasa takut tersebut harus dikelola dengan doa dan keyakinan, sebab seluruh perjuangan dan usaha keras selama 4 tahun berkuliah telah dilakukan secara maksimal.
2. Memahami Bahwa Takdir dan Rezeki Tidak Akan Tertukar
Pencapaian dan garis waktu kesuksesan setiap orang berbeda-beda ("setiap orang ada tempatnya, dan setiap tempat ada orangnya"). Ia membagikan pengalamannya sendiri yang mendapatkan panggilan kerja di Radio Republik Indonesia (RRI) Bukittinggi hanya 2 hari setelah prosesi wisuda.
3. Mencintai Proses dalam Karier dan Kehidupan
Menghadapi dunia kerja memerlukan ketahanan mental. Menjadi perintis (bukan sekadar pewaris) menuntut para lulusan untuk menghargai dan mencintai setiap tahapan proses naik-turun kehidupan, karena proses itulah yang membentuk dan membimbing menuju pencapaian yang diinginkan.
4. Rehat Sejenak dan Menghentikan Negative Thinking
Bagi yang belum langsung mendapatkan pekerjaan, hal itu bukan tanda kegagalan. Jika merasa lelah dalam berjuang, berhentilah sejenak untuk mengumpulkan tenaga sebelum melanjutkan kembali perjalanan menuju puncak.
Penyampaian alumni tersebut ditutup dengan pesan utama: "Waktu tidak menandakan siapa kita, namun konsistensi kita terhadap sesuatulah yang akan menjawab siapa kita," serta diiringi pantun penutup dan pesan agar seluruh lulusan FUAD terus berkembang dan bersiap menghadapi langkah baru di masyarakat
Penulis: Salsabila Salwa

