LPM-AL_ITQAN-Tidak ada yang salah dengan kegembiraan. Mahasiswa berhak bersenang-senang, bergerak, dan mengekspresikan energi mereka dengan cara yang mereka pilih. Namun ada satu prinsip sederhana yang sering terlupakan: tidak semua yang menyenangkan otomatis tepat untuk semua ruang dan konteks.
Kehadiran Bacakak Fun Boxing di lingkungan UIN SMDD Bukittinggi adalah contoh nyata dari prinsip itu. Kegiatan ini mungkin terasa ringan dan menghibur bagi sebagian mahasiswa. Namun jika kita mau jujur dan membaca situasinya lebih dalam, ada beberapa hal yang patut kita pertanyakan bersama, bukan sebagai musuh dari kegiatan ini, melainkan sebagai bagian dari komunitas kampus yang peduli terhadap arah dan kualitas ekosistem akademik kita.
Ketika Lapangan Berpindah Fungsi
Lapangan kampus selama ini bukan sekadar lapangan upacara atau ruang terbuka biasa. Ia adalah salah satu titik temu mahasiswa dari berbagai latar belakang, tempat diskusi mengalir, gagasan diuji, dan dialektika tumbuh secara organik. Ada nilai yang melekat pada ruang itu, yang mungkin tidak selalu tampak, namun terasa kehadirannya.
Ketika ruang tersebut kini lebih sering digunakan untuk kegiatan Bacakak Fun Boxing, pertanyaan kecil menyelinap: apakah kita telah mempertimbangkan apa yang kita tukar? Bukan soal siapa yang berhak menggunakan lapangan, melainkan soal bagaimana kita menjaga agar fungsi ruang publik kampus tetap inklusif dan mewadahi beragam kebutuhan mahasiswa termasuk mereka yang datang untuk berdiskusi dan berpikir bersama.
UKM Seni Bela Diri: Tergeser Tanpa Disadari
Di kampus ini, UKM seni bela diri telah lama hadir sebagai wadah resmi bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan bakat di bidang bela diri. Di dalamnya terdapat sistem latihan yang terstruktur, pembinaan karakter, dan nilai-nilai sportivitas yang diajarkan secara bertahap dan bertanggung jawab. Namun Bacakak Fun Boxing hadir dengan tawaran yang jauh lebih mudah dicerna: tanpa proses panjang, tanpa hierarki latihan, cukup datang dan bertarung. Daya tarik semacam ini tentu tidak bisa diabaikan begitu saja, karena ia secara nyata bisa menggerus minat mahasiswa untuk bergabung ke UKM yang sudah ada.
Yang lebih mengkhawatirkan, proses penggerusan ini berlangsung perlahan dan tanpa konfrontasi langsung seperti air yang mengikis batu. Ketika UKM seni bela diri mulai sepi peminat, kampus kehilangan salah satu lembaga kemahasiswaan yang selama ini berkontribusi dalam membentuk karakter mahasiswa secara terstruktur dan bertanggung jawab.
Dendam Pribadi: Risiko yang Tidak Bisa Diabaikan
Olahraga kontak fisik memiliki nilai mulia jika dikelola dalam sistem yang tepat. Namun di luar sistem yang terstruktur, ia menyimpan potensi yang tidak bisa disepelekan dalam pemikiran pendek bisa munculnya dendam pribadi. Di lingkungan kampus yang hubungan sosialnya sangat erat, kekalahan dalam pertandingan fisik apalagi yang disaksikan oleh banyak teman bisa meninggalkan luka yang tidak terlihat namun terasa. Rasa malu, tersinggungan, hingga dendam adalah respons manusiawi yang bisa muncul, dan tidak selalu mudah dikelola oleh mahasiswa yang belum memiliki kematangan emosional yang cukup.
Jika hal ini dibiarkan tanpa mekanisme penanganan yang jelas, maka Bacakak Fun Boxing bisa menjadi benih konflik yang tumbuh jauh melampaui batas arena pertandingan. Dan ketika konflik itu meledak, kampus bukan lagi tempat yang aman untuk belajar dan berkembang.
Menjaga Iklim Akademik Tetap Hidup
Ini mungkin dampak yang paling sulit diukur, namun justru paling perlu diwaspadai. Kampus adalah ekosistem. Ketika budaya yang tumbuh di dalamnya lebih condong ke arah tontonan dan hiburan fisik daripada diskusi dan pengembangan intelektual, maka secara perlahan orientasi mahasiswa pun ikut bergeser. Bukan berarti satu kegiatan hiburan langsung merusak segalanya. Namun kebiasaan kecil yang dibiarkan tumbuh tanpa evaluasi bisa menjadi budaya besar yang sulit diubah.
Mahasiswa UIN SMDD Bukittinggi adalah generasi yang sedang membentuk dirinya. Sejatinya lingkungan yang mereka hirup setiap hari, termasuk kegiatan yang berlangsung di dalam kampus turut andil dalam membentuk nilai dan prioritas mereka. Maka penting untuk bertanya: apakah Bacakak Fun Boxing membawa mahasiswa lebih dekat ke cita-cita akademik mereka, atau justru menjauhkan?
Catatan Akhir: Sebuah Ajakan untuk Berefleksi
Tulisan ini tidak bermaksud melarang kreativitas atau membungkam semangat mahasiswa. Setiap kegiatan punya tempatnya masing-masing. Namun ketika sebuah kegiatan berlangsung di dalam kampus, menggunakan fasilitas bersama, dan berpotensi memengaruhi ekosistem akademik secara garis besar maka ia tidak cukup hanya “fun”. Ia harus bisa dipertanggungjawabkan kepada seluruh elemen yang ada dalam kampus UIN SMDD Bukittinggi, ini adalah saat yang tepat untuk duduk bersama, mengevaluasi, dan memastikan bahwa setiap kegiatan yang tumbuh di kampus ini benar-benar selaras dengan nilai dan visi lembaga.
Kampus yang baik bukan kampus yang melarang kesenangan. Kampus yang baik adalah kampus yang cukup dewasa untuk membedakan mana kesenangan yang membangun, dan mana yang diam-diam meruntuhkan.
Penulis: M. Frysi Maulana Afdhalal Fadli (Mahasiswa HPI, Semester 4
