Pagi itu matahari sudah mulai menampakkan sinarnya dengan perkasa. Jam menunjukkan pukul 08.23 WIB tepat di hari Selasa. Beberapa mahasiswa UIN Sjech M.Djamil Djambek (SMDD) Bukittinggi tepat berhenti di sebuah warung serapan pagi di depan gerbang Asrama Haji Embarkasi Padang.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, sekitar 2 jam kurang lebih di atas motor dari Agam menuju kota Padang, Mahasiswa yang berjumlah 15 orang itu mencoba mengisi perut mereka yang kosong dengan memesan nasi sop dan ada juga yang memesan nasi goreng. Merekalah yang nantinya akan menjadi perpanjangan tangan dari para petugas Asrama Haji selama proses pelayanan ibadah haji berlangsung.
Tahun 2026 Masehi/ 1447 Hijriyah akan menjadi tahun penuh pengalaman baru dalam hidup mahasiswa itu yang tak semua mendapatkan kesempatan mengikuti proses pelayanan haji musim ini. Dimulai dari tanggal 23 April sampai tidak ada lagi jamaah yang berangkat haji di Provinsi Sumatera Barat tahun ini. Dari kejauhan tampak beberapa bus melaju dengan pelan dari arah persimpangan yang menumpangi calon tamu Tuhan kloter 1 dari kota Padang. Akan ada 13 kloter lagi yang akan datang dari daerah-daerah di Sumatera Barat.
Gerbang Asrama Haji yang bertuliskan “Selamat Datang” pun di masuki oleh bus-bus tersebut pada sekitaran pukul 07.06 pagi, Kamis 23 April. Tak lama setelah itu, koper jamaah turut diturunkan oleh para petugas yang sudah siap menerima dan memindahkan koper tamu Tuhan itu ke kamarnya masing-masing di depan gedung Multazam dengan nomor Manifest masing-masing dan ditandai tali bewarna-warni. Tak sedikit juga jamaah menempelkan fotonya supaya mudah dikenali.
Bus kemudian bergerak perlahan dan berhenti tepat di depan halaman Aula Kedatangan. Jamaah berseragam putih bergantian menuruni bus dengan ayunan kaki yang pelan penuh kehati-hatian di halaman Aula Kedatangan. Tampak petugas mendorongkan kursi roda yang ditempati oleh jamaah dan membimbing jamaah yang telah lanjut usia menuju ke dalam ruangan. Terlihat dengan samar-samar sebagian raut muka jamaah yang lelah penuh rasa lega dan tentunya bahagia penuh rasa haru. Wajah yang tenang meski mata yang penuh berkaca-kaca. Bangunan Aula Kedatangan menjadi saksi bisu atas jamaah yang datang silih berganti.
Bagi sebagian orang, Asrama Haji mungkin hanya dipahami sebagai tempat transit sebelum keberangkatan ke tanah Arab Saudi. Namun bagi calon jemaah, bangunan ini lebih dari sekadar tempat penginapan. Ia adalah ruang peralihan dari kehidupan sehari-hari menuju perjalanan spiritual yang telah lama dinanti-nanti oleh semua umat muslim.
Setelah dari Aula Kedatangan dan mendapatkan segala yang di perlukan jamaah seperti Kartu Nusuk, Paspor dan Living Cost. Jamaah melangkah menuju pintu keluar dan menuju kamar masing-masing. Jamaah yang lansia tentunya lebih didahulukan perlengkapan dan kebutuhannya supaya tidak berlama-lama di dalam ruangan. Dengan hembusan napas yang lelah penuh rasa lega bercampur perasaan bahagia. Karena setelah bertahun-tahun lamanya menyisihkan sebagian uang hasil usahanya sedikit demi sedikit untuk bisa mendapatkan kursi antrian yang dapat menghabiskan setengah usia menunggunya. Kini, setelah masa tunggu yang panjang, panggilan itu akhirnya datang.
Di depan pintu keluar sudah berdiri beberapa petugas dan juga relawan dari kalangan mahasiswa yang akan membantu mengarahkan ke gedung-gedung tempat istirahat. Bagi jamaah yang mendapatkan kamar istirahat di gedung Bir Ali, Jeddah, dan Multazam akan di bantu menunjukan arah dan bagi yang susah dalam berjalan kaki akan dibimbing menuju mini bus warna merah bermerekan UIN Imam Bonjol (IB) Padang yang sudah siap untuk mengantarkan jamaah ke gedung masing-masing.
“Dulu saya pikir tak akan sampai,” ujar Adrian Hasnul, calon jamaah haji yang berasal dari kota Padang.
“Sekarang tinggal berangkat.” tambahnya ketika hendak berjalan keluar dari ruangan.
Kalimat singkat itu mewakili ribuan cerita lain yang singgah di Asrama Haji setiap musim keberangkatan. Ada petani yang menyisihkan hasil panen. Ada pensiunan guru yang menunggu belasan tahun. Ada pasangan suami istri yang menunda renovasi rumah demi bisa mendapatkan nomor antrian haji. Semua bertemu di tempat yang sama, membawa niat yang sama.
Kamar-kamar yang di dalamnya tersusun rapi lengkap dengan amenities, sandal, 1 botol air mineral dan 1 kotak kecil yang berisikan kurma. Suasana terasa campur aduk antara lelah, haru, dan antusias. Sebagian jemaah mencoba beristirahat, sebagian lagi sibuk memastikan perlengkapan yang tidak tertinggal. Obat-obatan disusun ulang, kartu identitas diperiksa berulang kali.
Petugas Asrama Haji yang di tempatkan di gedung-gedung, mondar-mandir memberi arahan dan memastikan kalau jamaah tidak salah dalam menempati kamarnya dan begitu pun dengan para relawan mahasiswa. “Saya ingin mencari istri saya” ujar Yayan Gusman, salah satu calon jamaah haji dengan nada lirih penuh kebingungan mengatakan kepada para mahasiswa.
Muhammad Zahid Akhyar nama mahasiswa yang ditugaskan di gedung Bir Ali yang lagi berdiri di dekat pintu masuk gedung spontan mempertanyakan di mana kamar istrinya. “Istri saya di gedung Jeddah, kamar 102,” ungkap bapak itu.
Zahid pun memberikan arahan di mana letak gedung Jeddah. “Gedung Jeddah ada di sebelah sana pak,” jawab Zahid dengan mengulurkan tangan ke arah kiri dari halaman gedung Bir Ali. “Nanti di sana akan ada juga Petugas yang membantu mengarahkan pak,”
Bapak yang sudah berusia 48 itu, mengeluarkan kalimat terima kasih dari mulutnya dan tentunya diiringi sebuah senyuman kepada Zahid dan begitu pun balasan dari Zahid.
Petugas yang kerja sering luput dari sorotan, padahal di balik kelancaran keberangkatan, ada tangan-tangan yang bekerja nyaris tanpa jeda. Salah seorang petugas mengatakan, musim haji selalu menghadirkan suasana berbeda. “Kami melihat banyak emosi di sini. Ada yang sangat bahagia, ada yang cemas, ada yang menangis saat berpisah dengan keluarga. Tugas kami memastikan mereka merasa tenang.” Ujar Rido Vernando ketika penulis pertama kali bertemu dengannya dan berbicara mengenai pengalamannya selama menjadi Petugas Haji.
Rido yang merupakan salah petugas dari Asrama Haji, sudah sampai 10 tahun lamanya ia membantu kelancaran keberangkatan di Asrama ini. "Tidak ada yang saya harapkan selain Ridho nya Allah" katanya dengan mata berkaca-kaca dan wajah penuh bahagia, bahwa membantu jamaah dengan ketulusan hati mempunyai kepuasan tersendiri yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata atau pun di bandingkan dengan besaran nilai uang kertas.
Ketenangan menjadi hal yang penting. Sebab bagi sebagian jemaah, perjalanan ini adalah perjalanan pertama ke luar negeri. Tidak sedikit pula yang baru pertama kali naik pesawat. Karena itu, Asrama Haji menjadi tempat belajar terakhir sebelum berangkat mengenali rombongan, memahami alur perjalanan, hingga membiasakan diri dengan jadwal yang ketat.
Pagi dini hari sekitaran pukul 3.00 WIB tapat hari Jum’at dengan suasana yang masih syadu, beberapa jemaah tampak berjalan menuju Aula Keberangkatan gedung Multazam. Langkah kaki kembali terdengar ramai. Koper didorong menuju pelantaran Aula, barang-barang dipastikan lengkap. Jamaah pun menunggu di pelantaran Aula sambil menunggu instruksi untuk bisa masuk. Dijadwal pada jam 4.15 WIB, kloter pertama dari Kota Padang sudah berada di Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Tidak ada pelukan perpisahan sesama keluarga karena keluarga ataupun kerabat dekat tidak boleh masuk ke dalam pekarangan Asrama.
Di luar pagar, keluarga yang mengantar masih berdiri cukup lama. Mereka menunggu hingga kendaraan benar-benar hilang dari pandangan. Setelah itu, halaman kembali sepi, menanti kedatangan rombongan berikutnya dengan cerita yang berbeda.
Pada hari Sabtu tanggal 9/Mei/2026 Asrama Haji Padang telah memberangkatkan kloter terakhir pada musim haji tahun sekarang. Asrama Haji Padang telah memberangkatkan 14 kloter di musim Haji sekarang sebanyak 5.374 jamaah haji dan termasuk 191 jamaah pengguna alat bantu kursi roda yang mendapatkan pendampingan dan pelayanan. Data ini di tuliskan dari akun Instagram @kemenhaj.asramahaji_padang.
Asrama Haji Padang yang telah menyaksikan ribuan keberangkatan selama bertahun-tahun dan bangunan menjadi saksi bisu bahwa ibadah haji bukan hanya soal perjalanan fisik menuju Makkah, tetapi juga perjalanan batin yang dimulai jauh sebelum pesawat lepas landas. Dimulai dari niat, kesabaran menunggu, kerja keras mengumpulkan biaya, dan doa yang dipanjatkan diam-diam setiap malam.
Penulis: M. Zidan Pratama
