LPM AL-ITQAN-Pusat Kajian Ekoteologi (Center for Ecotheology Studies) Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Sjech M. Djamil Djambek (SMDD) Bukittinggi sukses melaksanakan Kuliah Tamu dengan tema "High and Dry : The Devil May Care " atau "Terpuruk dan Kering : Setan Tak Peduli". Kuliah tamu dilaksanakan di Aula Gedung Muhammad Hatta pada Rabu, 3/6/2026.
Kuliah tamu ini dihadiri oleh 29 orang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan peneliti. Forum ini menghadirkan Koen Broersma, M.Sc dari Netherland (Belanda) sebagai pemantik. Sebagai Senior Technical Consultant (Urban) Management atau Konsultan Teknis Senior (Perkotaan) Pengelolaan Air, Koen membahas krisis air global, etika lingkungan, dan tanggung jawab bersama terhadap bumi.
Dari pengalamannya dalam pengelolaan air, ia melihat terlalu banyak yang menjadi domain para insinyur dan teknokrat. Kita membutuhkan lebih banyak keterlibatan dari ilmu-ilmu lain seperti ilmu sosial, humaniora, teologi.
"Air adalah kehidupan pada dasarnya dan air memberikan makna. Dan siapa yang lebih dalam memberikan makna selain ilmu sosial? Jangan menyerahkan hal ini hanya kepada para insinyur," ujar Koen.
Ia juga menilai sikap bodoh yang tidak disadari, karena ketidak peka-an terhadap lingkungan. Ia melihat banyak pribadi yang tidak peduli terhadap lingkungan serta ketidak adaan rasa tanggung jawab kolektif.
"Itu bukan masalah saya, orang lain yang akan mengurusnya. Tapi, itu adalah sikap yang salah, karena kita semua seharusnya peduli tentang hal itu dan semua memainkan peran kita masing-masing, sekecil apa pun peran tersebut," tegasnya.
Koen Broesma merespons bahwa saat ini sistem manajemen air, seperti pasokan air dan drainase perkotaan yang terlalu kaku dan kering dari makna. Di sinilah nilai agama/teologi, yang ia sebut sebagai bagian dari filsafat masuk untuk memberikan makna (giving meaning) dan menghubungkan berbagai disiplin ilmu ke tingkat yang lebih tinggi.
Ia juga mencontohkan secara praktis di Indonesia: jika seorang pemimpin (seperti Wali Kota) memiliki pemahaman yang integratif dan mampu melihat kota sebagai satu kesatuan sistem yang saling terhubung (bukan melihatnya secara terpisah-pisah), maka kebijakan yang diambil akan menciptakan kondisi kehidupan yang jauh lebih baik bagi seluruh masyarakat. ia selalu mengatakan kepercayaan, keberanian, dan integrasi memainkan peran penting.
"Anda perlu memiliki lebih banyak kepercayaan antar sesama. Percaya pada niat baik mereka. Anda perlu memiliki keberanian juga untuk bertanya. Mempertanyakan diri sendiri, tetapi juga mempertanyakan orang lain. Anda perlu memiliki ruang untuk itu," tangkasnya.
Ketika Koen berbicara tentang integrasi. Ia menyuruh kita untuk melihat keseluruhan sistem. Jadi semua potongan yang berbeda, mereka saling terhubung.
"Tadi saya sampaikan mengenai miselium (mycelium), itu adalah sebuah jaringan yang menghubungkan segalanya. Dan Anda membutuhkan orang-orang yang bisa melihat keseluruhan sistem tersebut dan menghubungkan titik-titik keterkaitannya. Dan tidak hanya melihat sebagian kecil dan sebagian kecil lalu memotong-motongnya seperti itu. Anda membutuhkan keduanya. Anda membutuhkan detail, tetapi Anda juga membutuhkan pemikir sistem (system thinkers), jadi mengintegrasikannya," tambahnya.
Koen sangat merasa apresiasi dengan sangat senang hari ini ada orang-orang dari berbagai jurusan dan fakultas yang hadir. Seperti dari jurusan ekonomi, dan juga dari jurusan komunikasi, bersedia untuk mengeksplorasi bagaimana usaha ekoteologi dapat meningkatkan kondisi kehidupan sehingga tidak ada pemisah antara eko (lingkungan) dan teologi (keyakinan).
Penulis: Salsabila Salwa
