LPM AL-ITQAN — UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi dipercaya menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations (NICMCR) 2026 yang berlangsung pada 3–4 Juni 2026. Forum internasional ini mempertemukan akademisi dan tokoh lintas agama dari Indonesia dan Belanda untuk membahas isu agama, lingkungan, dan tanggung jawab bersama menghadapi perubahan global.
Mengusung tema “Living in a Changing World: Religion, Ecology, and Responsibility” (Hidup di Dunia yang Berubah: Agama, Ekologi, dan Tanggung Jawab), kegiatan ini menyoroti peran agama dalam merespons krisis lingkungan, perubahan iklim, serta tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks.
Sejumlah akademisi internasional hadir sebagai pembicara dalam forum tersebut, di antaranya Prof. Simone Sinn dari Universitas Munster, Jerman, Prof. Frans Wijsen dari Radboud University Nijmegen, Belanda, serta Koen Broersma dari Belanda.
Rektor UIN Bukittinggi, Prof. Silfia Hanani menyebut, kepercayaan yang diberikan kepada UIN Bukittinggi sebagai tuan rumah merupakan momentum penting untuk memperkuat peran perguruan tinggi Islam dalam membangun dialog lintas iman di tingkat global.
Menurutnya, persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan sains dan kebijakan publik, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral dan spiritual umat beragama.
“Dunia sedang menghadapi tantangan ekologis yang berat. Melalui Pertemuan Tahunan NICMCR ini, kita ingin menegaskan bahwa Islam dan Kristen memiliki tanggung jawab moral yang sama untuk menjaga kelestarian bumi. Dialog ini bukan lagi sekadar teologis, tetapi sudah menyentuh aksi nyata untuk menyelamatkan ciptaan Tuhan,” ujarnya.
NICMCR sendiri merupakan jejaring akademisi dan tokoh agama dari Indonesia dan Belanda yang aktif sejak 2010 dalam mengkaji berbagai isu strategis terkait hubungan Muslim dan Kristen. Pada pertemuan tahun ini, diskusi difokuskan pada integrasi nilai-nilai agama dalam menjawab persoalan keadilan ekologis, pendidikan, dan kesetaraan di tengah dinamika perubahan dunia.
Koordinator NICMCR Belanda, Yus Sa’diyah-Broersma, menilai Bukittinggi memiliki modal sosial dan budaya yang kuat untuk menjadi ruang dialog mengenai keberagaman dan lingkungan. Menurutnya, falsafah Minangkabau “Alam Takambang Jadi Guru” mencerminkan penghormatan terhadap alam yang relevan dengan tema konferensi.
“Kita hidup di dunia yang rapuh oleh perubahan iklim dan polarisasi. Kehadiran para akademisi dan pakar internasional di Bukittinggi membuktikan bahwa krisis ini membutuhkan pemikiran kolektif yang jujur antara komunitas agama dan ilmuwan,” ungkapnya.
Kepala Pusat Hubungan Internasional UIN Bukittinggi, Dr. Irwandi Nasir mengatakan, forum tersebut menjadi kesempatan penting untuk memperluas kolaborasi akademik internasional sekaligus memperkuat posisi UIN Bukittinggi dalam kajian moderasi beragama dan ekoliterasi Islam.
“Agenda ini memperkokoh posisi UIN Bukittinggi sebagai pusat keunggulan dalam kajian moderasi beragama dan ekoliterasi Islam di tingkat internasional,” ujarnya.
Penulis: Elgi Kurniawan
Sumber Foto: UIN Bukittinggi
