LPM AL-ITQAN– Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) UIN Sjech M. Djamil Djambek (SMDD) Bukittinggi menggelar kuliah tamu bertajuk "Dakwah Pemberdayaan Berbasis Digital" di Aula Gedung FUAD, Kamis (25/06/2026). Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Iswandi Syahputra, M.Si., Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Yogyakarta sekaligus Staf Ahli Menteri Agama RI sebagai pemateri.
Kuliah tamu tersebut dihadiri oleh Rektor UIN SMDD Bukittinggi, Prof. Silfia Hanani, para dosen, serta mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Dalam kesempatan itu, Prof. Iswandi mengajak peserta memahami tantangan dakwah di era digital yang kini dipengaruhi perkembangan algoritma media sosial, perubahan pola komunikasi, dan fenomena post-truth.
Dalam pemaparannya, Iswandi menjelaskan bahwa dakwah pada hakikatnya merupakan proses transformasi diri yang bertujuan mengangkat kualitas spiritual manusia. Menurutnya, dakwah bukan hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan yang mengajak manusia kembali mengenali potensi dan energi positif dalam dirinya.
Ia menyebutkan bahwa setiap manusia memiliki empat sumber daya profetis, yakni siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas). Keempat nilai tersebut menjadi modal utama dalam proses pemberdayaan diri dan masyarakat.
Pada kesempatan itu, Iswandi juga menyoroti perkembangan teknologi digital yang telah mengubah pola komunikasi masyarakat. Menurutnya, sistem digital yang awalnya hanya berupa angka berkembang menjadi algoritma yang kini mengendalikan arus informasi dalam berbagai platform komunikasi modern.
Ia menjelaskan bahwa seluruh aktivitas komunikasi berbasis digital, termasuk dakwah, saat ini berada dalam pengaruh algoritma. Kondisi tersebut melahirkan budaya digital dengan ciri konektivitas tanpa batas, perubahan pola komunikasi, dan akses informasi yang semakin terbuka.
Selain itu, ia mengingatkan adanya tantangan berupa fenomena post-truth, yaitu kondisi ketika emosi dan keyakinan pribadi lebih memengaruhi opini publik dibandingkan fakta objektif. Fenomena tersebut ditandai dengan maraknya hoaks, polarisasi opini, hilangnya privasi, hingga munculnya kecerdasan buatan yang turut memengaruhi kehidupan masyarakat.
Menutup kuliah tamunya, Iswandi mengajak civitas akademika untuk merefleksikan peran dakwah di tengah perkembangan teknologi digital. Ia menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai kebenaran dan pemberdayaan agar dakwah tetap memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat di era algoritma.
Penulis: Fadila Yuliana Siregar dan Isma Mulya Putri
Foto: Rijal Mahendra
