LPM ALITQAN—Memasuki penghujung pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN), UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi mulai melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pengabdian mahasiswa di berbagai daerah. Secara umum, pelaksanaan KKN tahun ini dinilai berjalan sesuai dengan prosedur, sementara program-program keagamaan menjadi kontribusi yang paling dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ketua Pelaksana KKN UIN Bukittinggi, Arjoni, mengatakan pelaksanaan KKN tahun ini telah berjalan sesuai dengan mekanisme yang telah ditetapkan kampus. Namun, menurutnya, keberhasilan KKN tidak dapat diukur hanya dari terlaksananya program kerja, melainkan dari dampak yang ditinggalkan bagi masyarakat.
"Hasil KKN secara spesifik tidak dapat dipandang dalam satu sisi," ujarnya.
Arjoni menjelaskan, berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan di sejumlah lokasi KKN, khususnya di Kabupaten Padang Pariaman, masyarakat memberikan respons positif terhadap kehadiran mahasiswa. Evaluasi tersebut diperoleh melalui masukan dari masyarakat, kepala jorong, wali nagari, hingga camat.
Menurutnya, masyarakat merasa terbantu, terutama dalam pelaksanaan program-program keagamaan yang dijalankan mahasiswa. Kehadiran mahasiswa dinilai mampu menghidupkan kembali aktivitas keagamaan di masjid dan musala, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat dalam aspek keagamaan, pembinaan rohani, dan sosial.
"Kegiatan anak-anak di TPA aktif. Kemudian didikan subuh. Kemudian wirid remaja," jelas Arjoni.
Selain mengevaluasi pelaksanaan program mahasiswa, Arjoni juga menyoroti mekanisme penunjukan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Ia menjelaskan, pada tahun ini kampus menerapkan sistem pendaftaran sukarela bagi dosen yang ingin menjadi DPL. Kebijakan tersebut diambil agar dosen yang mendampingi mahasiswa memiliki semangat dan komitmen yang tinggi selama pelaksanaan KKN.
"Alhamdulillah tidak banyak komplain dari dosen DPL kita, karena itu atas dasar kesukarelaan mereka," tambahnya.
Penilaian tersebut sejalan dengan pengalaman Lailatul Zikri, Ketua Kelompok KKN UIN Bukittinggi di Jorong Silungkang di Kecamatan Palembayan, Agam. Menjelang penarikan mahasiswa, ia mengaku merasakan kebahagiaan sekaligus kesedihan setelah menjalani pengabdian selama 40 hari bersama masyarakat.
"Menjelang berakhirnya masa KKN, saya merasa senang sekaligus sedih. Senang karena kami telah menyelesaikan amanah selama 40 hari mengabdi di Jorong Silungkang, tetapi juga sedih karena harus berpisah dengan masyarakat yang sudah menerima kami seperti keluarga sendiri," ujarnya.
Menurut Zikri, program yang paling membanggakan selama KKN adalah pelaksanaan tausiyah rutin di setiap kampung dan kegiatan mengajar mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ). Selain itu, mahasiswa juga berpartisipasi dalam kegiatan posyandu, senam bersama ibu-ibu, gotong royong, membantu kegiatan perpisahan sekolah, hingga membuat mural di TK Seruni.
Ia menilai, program tausiyah dan pembinaan TPQ memberikan dampak yang paling besar karena mampu mempererat silaturahmi masyarakat sekaligus meningkatkan semangat anak-anak dalam mempelajari Al-Qur'an.
Di balik berbagai capaian tersebut, Zikri mengungkapkan bahwa tantangan terbesar selama KKN adalah menjaga komunikasi dan kekompakan antaranggota kelompok. Sebagai ketua, ia belajar untuk lebih sabar, terbuka terhadap perbedaan pendapat, dan membangun kerja sama agar seluruh program dapat terlaksana dengan baik.
Zikri juga mengapresiasi dukungan masyarakat Jorong Silungkang yang sejak awal menerima mahasiswa dengan hangat dan terlibat aktif dalam setiap kegiatan. Menurutnya, sambutan tersebut menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama menjalani KKN.
Ia berharap semangat kebersamaan serta kegiatan-kegiatan keagamaan yang telah dibangun bersama masyarakat dapat terus berlanjut meskipun masa KKN telah berakhir.
Penulis: Elgi Kurniawan
