Pagi itu, Rani duduk di bangku paling depan ruang 203. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan lewat dua puluh menit. Di papan tulis masih tertulis nama mata kuliah yang sama seperti minggu lalu. Kursi dosen di depan tetap kosong.
“Ini sudah ketiga kalinya,” gumam Rani sambil menutup buku catatannya.
Mahasiswa lain mulai berdatangan dengan wajah yang pasrah. Ada yang membuka ponsel, ada yang menguap, dan ada pula yang bercanda seolah penundaan kelas adalah hal yang wajar. Padahal, jadwal di KRS tertulis jelas: perkuliahan dimulai pukul sembilan tepat.
Tak lama kemudian, seorang staf akademik masuk dengan senyum kaku.
“Maaf ya, dosennya masih mengajar di fakultas lain. Hari ini kelas ditiadakan dulu.” Kalimat itu terdengar begitu ringan, seolah waktu mahasiswa bukan sesuatu yang perlu diperhitungkan. Rani menghela napas panjang. Ia tahu dosen itu bukan tak mau mengajar. Satu orang dosen harus mengampu terlalu banyak mata kuliah, di kelas yang berbeda, bahkan di gedung yang berjauhan.
Di koridor kampus, spanduk besar bertuliskan “Menuju Kampus Unggul dan Berdaya Saing Global” tergantung megah. Rani menatapnya lama. Ia tersenyum tipis, bukan karena bangga, tapi karena ironis. Kampus boleh bercita-cita tinggi, namun ruang kelasnya sering kosong.
“Kalau dosennya kurang, kenapa mahasiswa terus ditambah?” tanya Rani pada temannya, Dika. Dika hanya mengangkat bahu. “Mungkin yang penting gedung baru dan acara seremonial. Soal kelas kosong, nanti juga terbiasa.”
Kata terbiasa itulah yang membuat Rani resah. Ia tak ingin terbiasa dengan sistem yang pincang. Ia datang ke kampus untuk belajar, bukan untuk menunggu dan menyesuaikan diri dengan kekurangan yang tak pernah benar-benar dibenahi.
Sore harinya, Rani menuliskan pengalamannya di buku harian. Bukan dengan nada marah, tapi dengan harapan kecil, semoga suatu hari, petinggi kampus mau duduk di bangku mahasiswa, menunggu dosen yang tak kunjung datang, dan merasakan bagaimana rasanya belajar di tengah keterbatasan yang seharusnya bisa diatasi.
Karena pendidikan, pikir Rani, bukan sekadar gedung megah dan slogan besar, tetapi kehadiran guru yang cukup dan benar-benar ada di kelas.
Penulis: Khaira Fitria
