Kepergian Jurgen Habermas pada tahun 2026 ini menandai berakhirnya era para raksasa intelektual yang percaya bahwa kata-kata masih memiliki kuasa untuk mengubah dunia. Sebagai pewaris terakhir Mazhab Frankfurt, Habermas menghabiskan hampir satu abad untuk mempertahankan satu keyakinan fundamental: masyarakat yang sehat berdiri di atas fondasi komunikasi yang rasional dan setara.
Namun, saat kita berdiri di selasar kampus hari ini, kita justru menyaksikan sebuah pemandangan kontras di mana "ruang publik" yang ia cita-citakan sedang mengalami penyempitan yang sangat mengkhawatirkan di bawah tekanan birokrasi dan pragmatisme.
Kampus, yang dalam bayangan Habermas adalah laboratorium bagi "Tindakan Komunikatif", kini perlahan bertransformasi menjadi pabrik yang memproduksi teknokrat siap pakai. Beliau mengajarkan bahwa komunikasi sejati bertujuan mencapai kesepahaman bersama (mutual understanding), namun realitas di ruang kelas kita saat ini menunjukkan bahwa komunikasi lebih sering bersifat "strategis". Mahasiswa dan dosen terjebak dalam tuntutan administratif yang menyesakkan; diskusi bukan lagi upaya kolektif mencari kebenaran, namun sekadar pemenuhan indikator capaian dan pengejaran akreditasi demi memuaskan pasar industri yang lapar akan tenaga kerja patuh.
Fenomena ini adalah manifestasi nyata dari apa yang disebut Habermas sebagai "Kolonisasi Dunia-Kehidupan" (Colonization of the Lifeworld). Dalam ekosistem akademis, nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan nalar kritis sedang dijajah oleh logika sistem yang hanya mengenal bahasa uang dan kekuasaan. Data menunjukkan kecenderungan universitas yang lebih sibuk menghitung peringkat global serta jumlah publikasi internasional daripada merawat kedalaman berpikir mahasiswanya. Di titik inilah, nalar kritis seolah dinyatakan mati secara klinis di bawah beban laporan performa yang kaku.
Kita merindukan "Ruang Publik" (Public Sphere) yang autentik, sebuah arena di mana argumen yang paling kuatlah yang menang, bukannya siapa yang memiliki jabatan paling tinggi atau siapa yang suaranya paling keras. Habermas memberikan peta bagi debat rasional yang inklusif, namun kenyataannya, mimbar-mimbar akademik kita sering kali diselimuti kesunyian. Ada ketakutan laten untuk bersuara kritis karena bayang-bayang sanksi administratif atau tekanan otoritas, sebuah kondisi yang membuat kampus kehilangan fungsinya sebagai pengawal moral bagi masyarakat luas.
Matinya nalar kritis juga terlihat dari desain kurikulum yang kian "instrumental" dari waktu ke waktu. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai proses pembebasan manusia, namun menjadi proses penyelarasan (link and match) dengan kebutuhan modal semata. Kita diajarkan dengan sangat mahir tentang "bagaimana" cara melakukan sesuatu secara teknis, namun jarang diajak bertanya "mengapa" kita harus melakukannya dan untuk kepentingan siapa hal itu dilakukan. Habermas akan sangat berduka melihat bagaimana rasionalitas dipersempit menjadi sekadar efisiensi teknis yang hampa makna.
Di sisi lain, ledakan digitalisasi yang seharusnya memperluas ruang diskusi justru sering kali menciptakan "ruang gema" (echo chambers) di lingkungan akademis. Alih-alih melakukan dialektika dengan pemikiran yang berbeda, kita cenderung berkumpul dengan mereka yang hanya mengonfirmasi prasangka kita sendiri. Padahal, inti dari pemikiran Habermas adalah keterbukaan terhadap "yang lain". Tanpa adanya kesediaan untuk mendengar dan dikritik, kampus hanya akan menjadi menara gading yang tampak megah secara fisik namun keropos secara substansi.
Menagih janji intelektual Habermas berarti menuntut kembali hak mahasiswa untuk berpikir liar namun tetap bertanggung jawab. Kita harus berani mengakui bahwa pendidikan tanpa nalar kritis hanyalah sebuah pelatihan keterampilan biasa, bukan sebuah pendidikan dalam arti yang sesungguhnya. Jika kampus gagal menjadi tempat di mana mahasiswa belajar mempertanyakan status quo, maka institusi tersebut sedang mengkhianati misi pencerahan yang diperjuangkan oleh Habermas sepanjang hayatnya.
Habermas selalu menegaskan bahwa proyek modernitas adalah "proyek yang belum selesai". Hal serupa berlaku bagi demokrasi dan kebebasan akademik yang kita nikmati saat ini. Kita tidak boleh membiarkan nalar kritis terkubur di bawah tumpukan kertas administratif yang tak berujung. Janji Habermas adalah janji tentang keberanian menggunakan rasio kita secara publik tanpa rasa takut, demi kepentingan bersama yang jauh lebih besar daripada sekadar keuntungan ekonomi jangka pendek.
Di tengah hiruk-pukuk disrupsi teknologi dan ketidakpastian politik, suara Habermas tetap menjadi kompas yang relevan. Ia mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati seorang intelektual terletak pada integritas komunikatifnya, bukan pada deretan gelar di belakang nama. Kampus harus segera dikembalikan menjadi "zona bebas paksaan", sebuah tempat di mana setiap individu dihormati karena kualitas argumennya, bukan karena posisi sosial atau kekuatan finansial yang mereka miliki.
Pada akhirnya, cara terbaik untuk mengenang Habermas adalah dengan menghidupkan kembali nyala api diskusi di kantin-kantin, selasar kelas, hingga ruang seminar. Kita harus memiliki keberanian untuk membongkar sekat-sekat birokrasi yang selama ini membelenggu kreativitas berpikir. Hanya dengan merawat nalar kritis, kita dapat memastikan bahwa universitas tetap menjadi jantung bagi peradaban yang manusiawi. Hal ini menjadi warisan abadi yang dipercayakan Habermas kepada kita semua yang masih percaya pada kekuatan dialog.
Penulis: Fatan Devrizal (Mahasiswa sarjana program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam
