Dalam masyarakat modern, produktivitas tidak lagi sekadar alat untuk bertahan hidup, melainkan ia telah menjelma menjadi standar moral. Produktivitas yang dialami oleh manusia modren tersebut menghasilkan serangkaian patologi psikis, seperti Antusiasme, Over-drive, Tekanan Fungsional, Frustrasi, Depersonalisasi, dan Burnout.
Proses ini sering dikaitkan dengan General Adaptation Syndrome (GAS) yang dikemukakan oleh Hans Selye, di mana tubuh dan mental melewati fase alarm, resistensi, hingga kelelahan total. Pada kesempatan ini saya akan mengajak pembaca membahas apa saja sih penyebab General Adaptation Syndrome( GAS) dan hal apa saja yang bisa kita upayakan mengantisipasinya, berikut penjelasannya:
Perangkap Eforia dan Ambisi (The Achievement Trap)
Pada fase awal, individu sering terjebak dalam apa yang disebut filsuf Byung-Chul Han sebagai "Society of Achievement." Kita hidup di era di mana "kemampuan untuk melakukan sesuatu" dipuja secara berlebihan.
Antusiasme awal dan dorongan over-drive sering kali dianggap sebagai kebajikan moral. Padahal Realitanya hal semacam ini hanya akan mendatangkan, ambisi dan eksploitasi diri (self-exploitation) menjadi sangat kabur. Ketika seseorang merasa harus terus membuktikan diri, mereka sebenarnya sedang mengaktifkan sistem saraf simpatik secara kronis.
Normalisasi Tekanan dan Disfungsi Kognitif
Memasuki tahap Tekanan & Kecemasan Fungsional, realitas menunjukkan adanya "normalisasi stres" di lingkungan profesional maupun akademik. Di sini, individu mulai kehilangan kemampuan relaksasi tanpa rasa bersalah.
Secara neuropsikologis, hormon kortisol yang tinggi secara terus-menerus mulai mengganggu fungsi prefrontal cortex, yang bertanggung jawab atas fokus dan pengambilan keputusan. Inilah mengapa "fokus menurun" dan "tidur tidak berkualitas."
Fase Krisis: Frustrasi dan Depersonalisasi
Ketika hasil tidak lagi sebanding dengan usaha (fase Frustrasi), terjadi disonansi kognitif. Individu mulai mempertanyakan makna dari apa yang mereka kerjakan. Hal ini sering berujung pada Depersonalisasi, sebuah mekanisme pertahanan psikologis di mana seseorang melepaskan diri secara emosional (detachment) untuk melindungi diri dari rasa sakit lebih lanjut.
Dalam realitas sosial, kita melihat ini sebagai fenomena "Quiet Quitting" yang mana baginya bekerja hanya sebatas prosedur tanpa keterlibatan jiwa, atau menjalani hidup seperti "autopilot."
Titik Nadir: Burnout sebagai Kehancuran Sistemik
Pada tahap akhir, Burnout muncul sebagai kondisi di mana cadangan psikis dan fisik telah habis total. Istilah "merasa rusak". Secara ilmiah, ini adalah titik di mana mekanisme homeostasis tubuh gagal berfungsi kembali secara mandiri tanpa intervensi yang signifikan.
Realitas saat ini menuntut kita untuk mendefinisikan ulang makna produktivitas. Burnout bukanlah tanda kelemahan karakter, melainkan konsekuensi logis dari sistem yang memuja pertumbuhan tanpa batas di atas kapasitas biologis dan psikologis manusia.
Beberapa hal yang bisa kita lakukan terhadap siklus ini di antaranya
Literasi Emosional: Menyadari bahwa "lelah" adalah sinyal bio-psikologis yang valid, bukan hambatan menuju kesuksesan.
Restorasi Batas (Boundaries): Memisahkan identitas diri dari pencapaian karier agar ketika terjadi kegagalan di satu aspek, harga diri tidak ikut runtuh.
Intervensi Sistemik: Lingkungan kerja atau pendidikan harus beralih dari budaya over-drive menuju budaya keberlanjutan (sustainability).
Penulis: Abdul Azi
