Berapa banyak dari kita yang masuk ke ruang kuliah setiap pagi dengan perasaan asing? Kita duduk di sana, mendengarkan rumus atau teori yang terasa seperti bahasa planet lain, hanya karena dulu kita memilih jurusan berdasarkan “kata orang tua,” “ikut teman,” atau sekadar “yang penting negeri.”
Fenomena salah Prodi bukan sekadar masalah salah pilih kursi, ini merupakan bagian dari krisis mental yang sistemik. Gelar sarjana dalam pandangan masyarakat sering kali dianggap sebagai beban moral, sehingganya seseorang bisa saja berada dalam dua posisi yang mengkhawatitkan, antara keadaan berhenti kuliah di tengah jalan yang kemudian berimplikasi anggapan gagal, dan komitmen melanjutkan dengan terpaksa sebagai bentuk siksaan yang pelan tapi pasti.
Dalam perspektif teori Self-Determination yang dikemukakan oleh Edward Deci dan Richard Ryan, motivasi belajar seseorang sangat ditentukan oleh terpenuhinya 3 kebutuhan, yaitunya Otonomi (kebebasan memilih), kompetensi, dan keterhubungan. Maka ketika mahasiswa tidak memiliki kendali atas pilihan jurusannya, secara tidak langsung ia telah kehilangan kebutuhan otonominya. Ketika seseorang telah kehilangan otonominya dalam artian melakukan sesuatu bukan karena pilihan dirinya sendiri, maka ia akan melakukannya dalam keadaan terpaksa. Proses belajar dalam jurusan yang tidak diminati atau digemari cenderung kehilangan makna dan berubah menjadi tekanan yang melelahkan secara mental. Akibatnya proses perkuliahan yang dilalui bukan lagi proses bertumbuh, akan tetapi berubah menjadi rutinitas yang dikerjakan tanpa keterlibatan batin.
Apakah saya menafikan seseorang yang menikmati studinya? Tentu tidak, banyak juga dari mahasiswa yang dapat menikmati studinya dengan baik sehingganya ia keluar sebagai sarjana yang memuaskan dirinya.
Namun, mari kita lihat dari sudut pandang yang lebih luas, kuliah sebenarnya bukan tentang apa yang kamu pelajari, tapi tentang bagaimana kamu belajar. Beberapa realitas yang harus diterima oleh para “penyintas” salah Prodi:
Adaptabilitas adalah skill Utama
Dunia kerja masa depan membutuhkan seseorang yang tidak kaku, terlebih dalam keilmuan yang ia kuasai. Seorang sarjana teknik yang jago menulis atau sarjana hukum yang paham data sains justru menjadi sosok yang paling dicari karena fleksibilitas berpikirnya.
Meskipun sebelumnya telah dijelaskan bagaimana kondisi batin yang terpaksa dalam menjalani sesuatu, kita tetap perlu memanfaatkan setiap kesempatan yang ada selama masa studi. Hal ini sejalan dengan konsep growth mindset yang dikemukakan oleh Carol Dweck, yang menegaskan bahwa kemampuan dan keberhasilan seseorang bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan dapat terus berkembang melalui proses, usaha, dan ketekunan.
Ijazah sebagai bukti ketuntasan
Menyelesaikan kuliah di jurusan yang tidak kamu sukai sebenarnya adalah bukti bahwa kamu punya integritas dan daya tahan. Kamu mampu menuntaskan apa yang sudah kamu mulai, meski itu berat.
Jika dilihat melalui teori resiliensi dari Ann Masten, kondisi yang tidak ideal justru dapat menjadi titik pembentukan karakter. Ketika seseorang mampu bertahan di tengah ketidaksesuaian, ia tidak hanya menyelesaikan studi, tetapi juga sedang melatih dirinya menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi realitas hidup. Dalam konteks salah jurusan, seorang mahasiswa tidak sekedar menjalankan rutinitasnya, selain ia menyelesaikan studinya secara tidak langsung juga melatih karakter dan daya tahan yang akan sangat bermanfaat dalam dunia kerja nantinya.
Eksplorasi di luar kurikulum
Kampus punya banyak pintu. Jika kelas terasa hambar, carilah “Ilmu” di organisasi, unit kegiatan mahasiswa, atau proyek lintas disiplin. Jangan biarkan kurikulum yang sempit membatasi potensi besarmu.
Lebih jauh, dalam konsep Lifelong Learning (belajar sepanjang hidup) yang bermakna kesempatan belajar seseorang tidak terikat ruang dan waktu, seseorang harus berupaya untuk terus meningkatkan diri, menarik peluang kerja, dengan catatan semuanya dilakukan secara sadar dan menyenangkan. Maka ketika seseorang merasa kelas yang ia masuki tidak memuaskan dirinya atau tidak dapat menampung serta mengembangkan kemampuannya, ia harus sadar kelas bukan satu-satunya sumber pengembangan. Ia harus mampu mencari wadah lain diluar kelas yang ia senangi untuk mengembangkan dirinya, seperti kebiasaan membaca, berdiskusi, gabung dengan organisasi serta banyak alternatif lainnya.
Jadi dapat disimpulkan tidak ada yang benar-benar sia-sia dari sebuah perjalanan kuliah, meskipun kamu merasa berada di jalan yang salah. Yang berbahaya bukanlah salah jurusan, melainkan salah sikap. Berhentilah meratapi pilihan masa lalu, dan mulailah membangun jembatan antara jurusanmu sekarang dengan mimpi yang sebenarnya ingin kamu tujuan.
Penulis: Syifa Aliya Zahra
